Ini Alasan Siswa Soal HOTS UNBK Jadi Momok

Ratusan siswa SMP di Temanggung mengiikuti simulasi Ujian Nasional berbasis komputer (UNBK) di SMK Swadaya Temanggung, Jateng, Jumat (8/2 - 2019). (Antara/SMK Swadaya)
12 Februari 2019 04:15 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO-Salah satunya siswa SMAN 4 Solo Bayu P. Dia mengaku kesulitan mengerjakan soal latihan UNBK yang berbasis HOTS. “Memang sekolah setiap hari selalu menggembleng siswanya untuk mengerjakan soal HOTS tapi latihan itu tidak cukup,” ujar Bayu saat ditemui Solopos.com di gerbang SMAN 4 Solo, Senin (11/2/2019).

Bayu khawatir dengan tingkat kesulitan soal UNBK tersebut dan akan berdampak pada nilai. Bayu mengaku nilai UNBK menjadi pertimbangan untuk masuk ke perguruan tinggi dan melamar pekerjaan. “Seharusnya soal HOTS diterapkan sejak masuk SMP dan setiap mata pelajaran harus diterapkan sistem soal seperti ini [HOTS],” ujar Bayu.

Pengalaman kakak kelasnya menjadi patokan karena banyak yang mengaku soal Matematika UNBK meleset dari  kisi-kisi. “Kakak kelas pasti mempunyai pengalaman pada UNBK kemarin mereka kebanyakan bilang soal soal susah. Berbeda jauh dengan soal tryout sebelumnya. Contoh soal yang kami belum pelajari, cotangen, matriks pecahan. Banyak soal juga kurang kalimat penjelasannya. Jadi bingung harus diapakan,” ujar Bayu.

Hal sama dirasakan Amelia Kurniawati, siswa SMAN 2 Solo. Amelia menyebut  soal UNBK harus dikerjakan dengan daya nalar tingkat tinggi. “Penalaran satu orang dengan yang lain itu kan berbeda. Saya sudah berlatih dengan menggunakan soal-soal sebelumnya juga banyak jawaban yang meleset,” ujar Amelia saat ditemui Solopos.com di kantin SMAN 2 Solo.

Amelia berharap pemberian soal HOTS ini diterapkan siswa sejak memasuki jenjang pendidikan. “Seharusnya memang diajarkan sejak awal. Banyak teman-teman saya yang belum paham dengan materi yang diajarkan guru,” ujar Amelia. 

Amelia mengaku tak sempat mengikuti bimbingan belajar di luar sekolah karena sudah merasa lelah dengan sistem full day school. “Sudah lelah, saya pulang sekolah pukul 16.00 WIB. Sampai rumah tidur, besok paginya sudah sekolah lagi,” ujar Amelia.

Warga Jebres, Tri Wahyuni, 47, mengaku anaknya kewalahan mengerjakan soal-soal tryout yang menggunakan sistem HOTS. “Kemarin anak saya mengikuti tryout di berbagai tempat. Anak saya mengaku pusing dan tidak paham dengan soal yang diberikan,” ujar Tri saat ditemui Solopos.com di The Park Mall.

Tri berharap pemerintah memberikan soal yang membutuhkan daya nalar tinggi itu sejak awal sekolah. “Seharusnya dilakukan dengan mulai dari semester satu. Seharusnya pihak sekolah melakukan bimbingan belajar dengan memberikan latihan-latihan soal model cerita yang banyak membutuhkan penalaran tinggi sejak awal. Jadinya siswa tidak kaget saat mengerjakan soal dengan tipe seperti itu,” ujar Tri.

Kepala SMP Batik Solo, Ceket Palupi Suroso, mengaku metode pembelajaran HOTS bertujuan siswa memiliki keterampilan berpikir kritis dan analisis. “Saya imbau guru harus dapat menyajikan pembelajaran yang tujuannya mengarah pada keterampilan tersebut. Agar tujuan mendapatkan keterampilan tersebut tercapai, pembelajaran harus berbasis pada masalah. Ini karena ketika menyelesaikan suatu masalah siswa harus menggunakan cara berpikir kritis dan analitis. Makin sering siswa dilatih menyelesaikan suatu masalah makin baik tingkat keterampilan menganalisisnya,” ujar Palupi.

Kepala SMKN 4 Solo Suyono mengakui pembelajaran menggunakan sistem HOTS tidaklah mudah. Pembelajaran tidak sekadar menghafal fakta dan konsep. “Peran guru tidak cuma berceramah dan siswa mendengarkan. Harus ada perubahan peran yang dimainkan guru. Guru tidak lagi menjadi pusat utama mengajar. Peran guru lebih banyak menjadi fasilitator. Guru memfasilitasi dalam menata lingkungan belajar supaya siswa melakukan atau beraktivitas, mencari, dan menukan sendiri materi pelajaran.

Suyono selalu memotivasi siswa lebih giat belajar dan membaca -materi simulasi atau kisi-kisi UNBK. “Saya beri masukan siswa, tidak hanya ia yang mengalami UNBK semua orang juga pernah mengalami. Tetapi memang setiap tingkatan berbeda-beda kriterianya,” ujar Suyono.