Ini Kata Sejarawan Soal Prasasti Berbahasa Belanda di Kantor Damkar Solo

Matias Andry, pegawai Dinas Pemadam Kebakaran Solo menunjukan marmer peninggalam zaman Belanda, Senin (11/2/2019) siang. (Solopos - Ichsan Kholif Rahman)
12 Februari 2019 20:15 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Sejarawan menilai prasasti berbahan marmer dengan tulisan berbahasa Belanda yang ditemukan di Kantor Dinas Pemadam Kebakaran (Damkar) Pedaringan, Jebres, Solo, sebagai bentuk penghargaan kepada Raja Keraton Kasunanan Surakarta Paku Buwono (PB) X.

Sejarawan memperkirakan prasasti itu dipasang di kawasan permukiman Belanda di Kota Solo pada zaman kolonial Belanda. Pakar Sejarah Universitas Gajah Mada, Sri Margana, kepada wartawan, Senin (11/2/2019), mengatakan apabila dilihat dari bahasa prasasti itu bertuliskan “Pintu ini dibuat tahun 1930 oleh penduduk Eropa sebagai penghargaan kepada yang mulia Susuhunan Pakubuwono X pada ulang tahunnya ke-64 pada tanggal 3 Januari 1929.”

“Saat ini, seperti kartu ucapan ulang tahun, seharusnya prasasti itu diletakkan di pintu atau gerbang. Kemungkinan lokasi pemasangan prasasti itu dahulu merupakan permukiman Belanda atau benteng yang sudah ada. Untuk memastikannya perlu penelitian lebih dalam,” ujar Sri Margana.

Sejarawan Solo, Heri Priyatmoko, yang juga Dosen Sejarah di Universitas Sanata Dharma Jogja, mengatakan prasasti tersebut mengandung tiga makna sejarah. Pertama prasati itu merupakan bentuk penghormatan kepada PB X selaku pemimpin yang memiliki kawasan Kota Solo.

Walaupun Belanda menempati posisi tinggi dalam struktur sosial namun masih menghormati PB X sebagai penguasa setempat. Lalu, prasasti itu merupakan penanda unsur ruang kota atau akses masuk menuju Kota Solo.

Kawasan Pedaringan dulunya adalah periferi atau pinggiran. Prasasti bisa juga sebagai pelengkap dari Tugu Cembengan yang difungsikan sebagai batas teritorial Kota Solo dengan wilayah pinggiran.

Selain itu, prasasti itu juga bisa dimaknai sebagai kesadaran masyarakat tempo dulu dalam meninggalkan jejak sejarah. Hal itu sebagai bukti penting untuk memahami kehidupan masa lampau. Sedangkan angka 1929 tertulis sebagai era gemilang PB X.

Sebagaimana diinformasikan, seorang pegawai Dinas Damkar Solo, Matias Andy, menemukan papan meja berbahan marmer yang setelah dilihat ternyata bertuliskan kalimat dalam bahasa Belanda. Benda yang diduga prasasti itu selama ini dimanfaatkan sebagai meja tanpa ada yang menyadari nilai sejarahnya.