Tambah Sedekah dan Asah Intuisi, Kunci Sukses Jumariyanto

Jumariyanto bos Regar Sport Indonesia (Istimewa)
12 Februari 2019 20:40 WIB Chelin Indra Sushmita Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI Mengorganisasi perusahaan yang diawaki ratusan orang bukanlah perkara mudah. Butuh tangan dingin mengelola sumber daya, ketepatan analisis, dan yang tak kalah penting kekuatan intuisi.

Peran intuisi dalam menapaki setiap anak tangga bisnis konfeksi Regar Sport Indonesia dirasakan betul oleh Jumariyanto, 38. Intuisi seolah menjadi tangan-tangan tak terlihat yang membuka pintu setiap rintangan yang dihadapi.

Perjuangan Jumariyanto membangun Regar Sport penuh dengan kisah menarik. Dia pernah tiga kali membubarkan perusahaannya, kemudian membangunnya kembali. Hal ini dilakukan saat jumlah karyawannya mencapai 50 orang.

“Siapa yang mengatur intuisi orang? Siapa yang mampu menciptakan rekam medis?” tanya Jumariyanto kepada wartawan Solopos.com, Cahyadi Kurniawan. Dia mencontohkan rekam medis lazim ditemui di rumah sakit atau puskesmas dan fasilitas kesehatan lainnya. Namun, konsep rekam medis juga bisa dimunculkan dalam standar bisnis komersial.

Di Regar Sport, konsep menyerupai rekam medis hadir dalam proses produksi mulai dari input data, transfer, sampai pengiriman. Semua proses itu tercatat, terdokumentasi, tersaji serta bisa diakses melalui Internet.

“Bagaimana inovasi muncul? Karena kebutuhan atas ketergantungan user terhadap informasi. Lantas siapa yang menggabungkan rekam medis di puskemas ke dalam bisnis? Inilah intuisi,” tegas Jumariyanto.

Jumariyanto melanjutkan, “ternyata seorang pengusaha itu butuh intuisi. Intuisi itu tahu-tahu keluar begitu saja. Lalu, siapa yang mengeluarkannya? Akhirnya saya percaya bahwa yang membuat proses ini cepat, saya hubungkan dengan agama. Bersyukur itu adalah berbagi,” kata pria asli Wonogiri ini saat berbincang dengan Solopos.com di rumahnya, Lingkungan Pokoh, Kelurahan Wonoboyo, Wonogiri, akhir pekan lalu.

Manajemen Sedekah

Konsep berbagi dilakoni Jumariyanto sejak awal pendirian Regar Sport. Saat itu, Jumariyanto menyisihkan Rp10.000 per hari untuk sedekah. Berjalan 2-3 tahun, ia menilai apa yang dilakukannya salah. Sebab, ia merasa terjebak pada sebuah formalitas. Sedekah belum dipahami sebagai solusi.

Lalu, pada 2016, Jumariyanto menaikkan sedekah menjadi Rp100.000 per hari. Ia tak menghiraukan kepada siapa sedekah itu disalurkan, yang penting layak menerima. Jumlahnya lalu bertambah menjadi Rp200.000, Rp300.000, hingga Rp500.000 per hari.

“Dampaknya, ketika menghadapi masalah harian terus menerus, ternyata ada pola-pola yang nyeleneh, aneh, nyentrik, dan tidak bisa dinalar. Itu menjadi kejutan-kejutan luar biasa dalam proses manajemen. Kesimpulannya, ini hasil dari sedekah. Jadi direksi, misal mau naik target, mereka yang minta naik sedekah. Itu bukan saya yang minta. Tapi, dari bawah. Anak-anak marketing juga tahu,” terang pria kelahiran 9 Juni 1981.

Mulai saat itu, Jumariyanto menambah jumlah sedekahnya menjadi Rp1 juta, lalu Rp1,5 juta, sampai Rp2 juta. Kemudian, naik bertahap hingga Rp2,5 juta dan terus bergerak hingga hari ini Rp5 juta per hari.

Alokasi sedekah pun ditata. Jumariyanto membagi sejumlah kelompok penerima sedekahnya, yakni yatim piatu, duafa, dan kelompok tarbiyah. Saat jumlah sedekah naik, alokasi diperluas ke bidang olahraga sepak bola, catur, badminton, hafiz, difabel di Eromoko, hingga air bersih di Pracimantoro.

Ada juga program Gerakan Orang Tua Asuh di SMAN 1 Wonogiri dan SMAN 1 Girimarto serta perbaikan Rumah Tak Layak Huni (RTLH). Pada level Rp5 juta per hari, sedekah itu dialokasikan kepada 50 lokus penerima di Kabupaten Wonogiri. “Ada juga dana sosial untuk karyawan yang sakit, program bina lingkungan Regar Sport kepada RT, karang taruna, dan stakeholder di lingkungan sekitar,” imbuh Jumariyanto.

Camat Eromoko, Danang Erawanto, mengatakan, program sedekah Regar Sport di Kecamatan Eromoko dimanfaatkan untuk memfasilitasi difabel, membangun tempat ibadah, hingga perbaikan RTLH. Khusus untuk pemberdayaan difabel, dana dari Regar Sport dikelola oleh paguyuban difabel.

“Pengelolaan diserahkan kepada paguyuban baik untuk permodalan usaha, alat bantu, termasuk kegiatan pembinaan, hingga stimulan-stimulan lain,” kata Danang.