Rayakan Ultah, Wali Kota Solo Bagikan Buku Keislaman Bung Karno

Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, memotong kue tart saat merayakan ulang tahun yang ke-59 di Loji Gandrung, Solo, Rabu (13/2 - 2019). (Solopos/Nicolous Irawan)
13 Februari 2019 21:37 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Wali Kota Solo, FX Hadi Rudyatmo berulang tahun ke-59 pada Rabu (13/2/2019). Selain perayaan dengan memotong tumpeng, Rudy, sapaan akrabnya, membagikan 100 buku berjudul Keislaman Bung Karno.

Buku yang ditulis Rahmat Sahid itu berisi ensiklopedia pandangan dan pemikiran Bung Karno tentang Ketuhanan, nilai Islam, dan kekagumannya terhadap sosok Nabi Muhammad SAW. Buku setebal 160 halaman itu diberikan kepada tamu dari organisasi perangkat daerah (OPD) dan instansi lain yang datang merayakan ulang tahun wali kota di Rumah Dinas Loji Gandrung, Rabu.

Rudy mengajak agar buku yang kata pengantarnya ditulis putrinya, Megawati Soekarnoputri itu dibaca seluruh masyarakat. Harapannya, agar masyarakat mengetahui bagaimana presiden pertama Indonesia itu menjalankan Keislaman tanpa meninggalkan kebudayaan.

“Bung Karno adalah sosok yang mengedepankan Islam Nusantara. Seperti pesan Bung Karno, kalau jadi Hindu, jangan jadi orang India. Kalau jadi Islam, jangan jadi orang Arab, kalau jadi Kristen, jangan jadi orang Yahudi. Tetaplah jadi orang Indonesia dengan adat budaya Nusantara yang kaya raya,” ucapnya.

Rudy menampik pembagian buku itu bertujuan untuk kampanye. Ia bahkan meminta aparatur sipil negara (ASN) untuk tidak terlibat kampanye apapun, baik partai politik atau pilpres. “Pesan saya dari dulu tetap sama, yaitu lurik. Lurus dalam pengabdian, ikhlas dalam pelayanan. Bagaimana menjaga kerukunan, persatuan dan kesatuan antar ASN,” kata dia.

Hal tersebut senada dengan ucapan Wakil Wali  Kota, Achmad Purnomo, yang meminta ASN menjadi juru damai di tengah masyarakat yang terbelah jadi dua kelompok jelang Pemilihan Umum (Pemilu). Meski ASN punya hak politik untuk memilih calon presiden (capres) dan calon wakil presiden (cawapres), mereka dilarang berkampanye dan harus bersikap netral.