Kisah Mbah Jangkung Penyebar Islam di Nogosari Boyolali

Dua orang warga mengunjungi makam Kyai Jangkung yang terletak di Dukuh Jangkungan, Desa Glonggong, Kecamatan Nogosari, Boyolali. (Istimewa - Pemdes Glonggong, Nogosari)
13 Februari 2019 08:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI — Di Dukuh Jangkungan, Desa Glonggong, Kecamatan Nogosari, Boyolali, sepetak makam dengan pembatas berupa pagar tembok berwarna hijau tampak mencolok di tengah perkebunan jati desa setempat.

Pagar tembok yang menjadi pembatas makam dihiasi kaligrafi kuning di dalamnya yang merupakan kutipan ayat suci Alquran. Hanya ada dua buah batu nisan di sana, semuanya berwarna hitam tanpa terukir nama.

Satu batu nisan dilengkapi kijing terletak di dalam pagar. Sisi kanan dan kiri nisan itu tertutup kain kafan putih, sementara bagian tengahnya yang cekung dipenuhi bunga tabur.

Meski tanpa ukiran, warga Glonggong percaya bahwa makam tersebut merupakan makam Kyai Jangkung. Sementara satu makam yang lain terletak di pagar tembok dan belum diketahui secara pasti identitasnya.

Kyai Jangkung ini pula lah yang menjadi cikal bakal penamaan Dukuh Jangkungan. Kabarnya Kyai Jangkung merupakan satu dari dua tokoh sentral dalam sejarah Desa Glonggong.

Satu tokoh lain bernama Mbah Dudo yang makamnya juga terletak di kawasan Desa Glonggong. Legenda lokal yang berkembang mengisahkan awalnya wilayah Glonggong dan Nogosari didiami oleh Mbah Dudo sebagai tetua masyarakat.

Warga di sana hidup dalam tradisi Jawa yang kental sebelum Islam datang. “Pembawa Islam ke Glonggong dan Nogosari yang pertama ya Kyai Jangkung ini,” ungkap tokoh masyarakat setempat, Isniawan, 42, ketika berbincang dengan Solopos.com, Minggu (10/2/2019).

Sebelum berdakwah, sebagai seorang pendatang Kyai Jangkung harus memenuhi sejumlah syarat yang diajukan oleh Mbah Dudo. Dia diminta menanam ribuan pohon nagasari di tanah yang dulunya tandus itu.

Tak ada penjelasan secara pasti mengenai alasan pemilihan pohon itu. Namun kemudian nama nagasari diabadikan sebagai nama Kecamatan Nogosari. Desa Glonggong menjadi ibu kota kecamatan itu.

Penelusuran Solopos.com, pohon Nogosari merupakan pohon yang termasuk dalam jenis tumbuhan Sapotaceae atau sawo-sawoan. Tinggi pohon bisa mencapai 12 meter dan termasuk ke dalam jenis kayu keras.

Syekh Siti Jenar

Isniawan menyebut pohon peninggalan Kyai Jangkung ini masih tersisa di sejumlah tempat seperti kawasan Kantor Desa Glonggong dan perkebunan warga.

Sejak kedatangan Kyai Jangkung, Islam berkembang cukup pesat di Nogosari. Meski belum ada penelitian yang mendalam, perkembangan keagamaan ini dibuktikan dengan munculnya langgar dan sejumlah pesantren.  “Selama ini cerita soal Kyai Jangkung di kalangan warga hanya tersebar dari mulut ke mulut,” ungkapnya.

Meski demikian, Isniawan berani mengakui kebenaran legenda tersebut. Dia berpijak pada cerita Syekh Siti Jenar, ulama pembawa Islam ke tanah Jawa.

Dalam salah satu kisahnya, imbuh Isniawan, Syekh Siti Jenar disebutkan memiliki murid bernama Kyai Jangkung yang ikut menyebarkan Islam di tanah Jawa.

“Namanya sama, tapi yang dimaksud Syekh Jangkung di Glonggong atau bukan juga kurang tahu,” imbuhnya.

Kepala Desa Glonggong, Mulyono, menyebutkan di desanya makam Kyai Jangkung dan Mbah Dudo memang kerap menjadi jujugan ziarah warga lokal. Saat ini pemerintah desa berencana mengembangkan keduanya ke arah wisata religi sebagai potensi desa.