Segudang PR Jadi Tanggungan Ketua Baru KONI Wonogiri

Suasana Musyawarah Olahraga Kabupaten Wonogiri yang digelar KONI Wonogiri di ruang Giri Manik, Setda Wonogiri, Sabtu (9/2/2019)./Istimewa - Humas Pemkab Wonogiri
13 Februari 2019 13:00 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Revitalisasi cabang olahraga (cabor) yang mati yang menjadi konstituen KONI Wonogiri menjadi PR bagi Ketua KONI terpilih, Muhammad Eko Budi Santoso. Dari 35 cabor yang ada, 11 di antaranya mati kepengurusannya.

Beberapa cabor yang mati itu di antaranya sepak bola, voli, sepak takraw, drum band, gantole, tinju, bridge, kempo, dan balap sepeda. Sebagian dari mereka merespons surat KONI dengan membenahi kepengurusan seperti yang dilakukan cabang sepak takraw. “Ada 11 cabor yang mati kepengurusannya. Kami minta dihidupkan kembali dan mulai berkegiatan. Kalau enggak ada kegiatan, enggak ada alokasi [anggaran] ke sana,” kata Ketua KONI Wonogiri terpilih, Muh. Eko Budi Santoso, saat ditemui Espos seusai Musyarawah Olahraga Kabupaten Wonogiri di Ruang Giri Manik, Setda Wonogiri, Sabtu (9/2/2019).

Tak hanya itu, untuk memajukan olahraga Wonogiri, Eko berencana menambah daftar cabang olahraga unggulan. Berdasar hasil Porprov Jateng di Solo tahun lalu, Wonogiri setidaknya memiliki sejumlah cabor unggulan meliputi judo, pencak silat, panahan, sepatu roda, sepak takraw, dan petanque. “Ada beberapa olahraga prioritas yang belum tergarap optimal. Pengkab-pengkab yang ada kami dorong lebih aktif. Targetnya, Porprov mendatang peringkatnya harus lebih bagus,” ujar Eko yang juga Pengurus Kabupaten Ikatan Pencak Silat Indoesia (Pengkab IPSI) Wonogiri.

Untuk memenuhi target itu, Eko harus segera membentuk pengurus baru. Di bawah kepemimpinannya, Eko memastikan semua pengurus KONI harus berlatar belakang olahraga. “Pengurus baru semua personelnya harus berbasis olahraga. Orang tanpa latar belakang olahraga jangan jadi pengurus KONI. Hal ini penting demi kemajuan olahraga Wonogiri,” beber Eko.

Ketua KONI Wonogiri demisioner, Eko Warsito, menilai formatur kepengurusan harus dievaluasi agar menghasilkan SDM berkualitas. Eko berpesan lebih baik miskin struktur tapi kaya fungsi ketimbang sebaliknya. “Wonogiri banyak sekali SDM berkualitas. Ini nanti pengurus baru dan formatur harus bersama-sama dinas terkait bikin format yang betul,” kata Eko.

Ia juga menyoroti pentingnya program kerja yang terarah dan teruktur. Di luar Wonogiri, banyak atlet berkualitas asal Wonogiri yang bisa  ditarik berpartisipasi mengembangkan olahraga Wonogiri. KONI dan Pemkab perlu membuat kebijakan agar atlet-atlet berkualitas Wonogiri tidak diakui daerah lain. “Perlu kebijakan untuk proteksi atlet agar tak diakui daerah lain. Evaluasi pengkab yang hidup dan mati juga perlu. Sebagai bahan tolok ukur, hasil Porprov kemarin meningkat dari 3 menjadi 7 emas. Posisi Wonogiri juga naik dari peringkat ke-28 menjadi ke-26. Olahraga Wonogiri diharapkan lebih maju dari apa dicapai kemarin,” harap Eko.

Kabid Kepemudaan dan Olahraga Dinas Pemuda Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Wonogiri, Joko Nugroho, menilai pengurus KONI yang baru harus bisa membikin cabor-cabor unggulan baru. Jika tidak, olahraga Wonogiri akan semakin tertinggal. “Mungkin sekarang ada judo, pencak silat dan sejumlah cabor lain. Cabor lain juga perlu dibikin unggulan. Pemerintah akan senantiasa bekerja sama dengan KONI,” tutur Joko.