UMS Kirim Alumni dan Mahasiswa ke Jepang untuk Magang

UMS bekerja sama dengan Rumah Sakit Fuku Kyodou Kumiai Jepang, Selasa (12/2 - 2019)
14 Februari 2019 01:00 WIB Agnes Yustin Roswita Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) menjalin kerja sama dengan Rumah Sakit Fuku Kyodou Kumiai Jepang. Dengan adanya kerja sama itu UMS mengirim para mahasiswa dan alumni Program D3 Keperawatan serta S1 Kebidanan ke negara tersebut untuk kerja magang.

Program magang berlangsung selama sembilan bulan. Kerja sama digelar di Gedung Siti Walidah lantai ke-7 UMS, Selasa (12/2/2019). Sekitar 180-an mahasiswa dan para tamu dari berbagai kota lain menghadiri acara penandatanganan kerja sama tersebut.

“Kami akan mengirimkan tenaga kerja bidang kesehatan, khususnya keperawatan dan kebidanan, karena dibutuhkan 400.000 sampai 500.000 tenaga keperawatan. Nantinya juga dibagi dengan Universitas Muhammadiyah kota lain dan universitas swasta lain. Contohnya seperti yang dari Jakarta dan Malang,” kata Rektor UMS, Sofyan Anif.

CEO Rumah Sakit Fuku Kyodou Kumiai, Kowada Ikono, mengatakan Jepang memiliki banyak penduduk usia lanjut. Namun, negara itu kekurangan tenaga keperawatan lansia. Kowado berharap banyak tenaga dari Indonesia yang menjadi perawat di Jepang.

Saat ini mulai ada beberapa orang Indonesia yang sudah bekerja di Jepang. “Kami berharap para peserta magang tidak hanya mempelajari keperawatan lansia, tapi juga mempelajari budaya dan cara orang Jepang bekerja. Ditambah lagi bahasa Jepang  semakin susah,” kata Kowada dalam sambutannya dengan bahasa Jepang. Mengenai proses magang, UMS menyelenggarakan pelatihan selama sembilan bulan. Angkatan magang pertama yang telah berjalan selama 2,5 bulan beranggotakan 13 peserta. Dalam penandatanganan MoU, UMS juga membuka kesempatan magang untuk angkatan kedua.

Gaji yang ditawarkan oleh Rumah Sakit Fuku Kyodou Kumiai bervariasi, tergantung apakah termasuk kerja reguler atau ditambah lembur malam. Khusus kerja reguler, sekitar 170.000 yen atau setara Rp22 juta. Jika ditambah dengan kerja malam, gaji yang diperoleh sekitar 200.000 yen atau Rp25 juta.

“Biaya pelatihan dan keberangkatan sementara ditanggung oleh UMS dan Bank Jateng Syariah senilai Rp22 juta sampai Rp23 juta. Dana tersebut dapat dilunasi secara mengangsur setelah diterima kerja di Jepang,” kata Wakil Rektor Bidang Kesiswaan UMS, Taufik.

Ke depan, UMS membangun kerja sama dengan Jepang dalam pengembangan ilmu teknik dan ilmu pertanian. Sofyan Anif juga memilih Jepang sebagai rekan kerja sama karena negara itu dinilai sebagai negara maju dengan sumber daya manusia yang cerdas.