Awas, Semburan Hoaks Hancurkan Negeri

Amir Machmud (kiri) bersalaman dengan ulama Suni Suriah tokoh majelis ulama Suriah Dr. Taufik Ramadhan Al Buthi di Damaskus, Suriah, awal Desember 2018. - Istimewa
14 Februari 2019 15:55 WIB Syifaul Arifin Solo Share :

 Solopos.com, SOLO--Calon presiden Joko Widodo (Jokowi) menuding kubu lawan menggunakan model kampanye semburan kebohongan. Kubu Jokowi juga menuding lawan menggunakan konsultan asing.Kubu Prabowo tak mau kalah, juga menyebut lawannya suka menebar kebohongan dan menggunakan konsultan asing. Istilah firehose of falsehood kini jadi perbincangan.

Siapa yang benar dari dua kubu itu, silakan publik yang menilai. Dalam kontestasi politik, saling serang seperti hal biasa. Politik menjadi panas itu hal wajar. Tudingan-tudingan bernada negatif untuk menjatuhkan lawan juga dipraktikkan sejak dulu.

Dalam politik ada istilah negative campaign dan black campaign. Negative campaign adalah kampanye dengan mencari kesalahan dan kekurangan lawan politik yang memang benar ada alias faktual. Sedangkan dalam black campaign, yang disampaikan sesuatu yang sebenarnya tidak ada alias hoaks. Lalu, apakah sih yang disebut semburan kebohongan atau dusta itu? Istilahnya firehose of falsehood. Istilah ini sering disebut sebagai propaganda ala Rusia. Namun, orang yang terkenal menggunakan model ini adalah Presiden AS Donald Trump yang sering menyampaikan hoaks ketika berkampanye melawan Hillary Clinton hingga akhirnya Trump berhasil duduk di Gedung Putih.

Christopher Paul dan Miriam Matthews dalam tulisan berjudul The Russian Firehose of Falsehood Propaganda Model (Rand Corporation, 2016) menulis propaganda model ini  berciri pertama, volume tinggi dan menggunakan banyak channel atau platform; kedua, cepat, terus menerus, dan berulang; ketiga, kurang komitmen terhadap realitas objektif, dan keempat, kurang komitmen dalam konsistensi.

Pesan hoaks disemburkan terus-menerus, melalui berbagai saluran, kadang tidak konsisten, dan akhirnya membingungkan publik. Publik sebenarnya tak percaya pada pesan itu namun karena dibombardir pesan itu dari berbagai penjuru, akhirnya kewalahan lalu menyerah. Pesan hoaks itu kemudian dianggap sebagai kebenaran. Hoaks yang menyebar di masyarakat dan dianggap sebagai kebenaran bisa berbahaya.

Dalam sejarah, hoaks juga bisa memicu perang. Dikutip dari Deutsche Welle, ada enam perang yang dipicu oleh berita hoaks. Pada 1889, beredar kabar tentara Spanyol menelanjangi perempuan AS. Gara-gara berita hoaks itu, AS memerangi Spanyol. Adolf Hitler juga pernah menggunakan hoaks. Awal September 1939, dia melaporkan kepada parlemen bahwa militer Polandia menembaki tentara Jerman. Dia lalu membalas dendam yang kemudian memicu Perang Dunia II. Terungkap kemudian tentara Jerman sendiri yang membunuh pasukan di perbatasan dengan Polandia itu.

Kementerian Pertahanan AS melaporkan kapal perang USS Maddox ditembaki kapal Vietnam Utara pada 2 Agustus dan 4 Agustus 1964. Kongres AS kemudian mengizinkan Presiden Lyndon B. Johnson menyerang Vietnam. Bekas Menteri Pertahanan Robert McNamara pada 1995 mengakui  informasi penyerangan itu palsu. Kasus lainnya adalah serangan NATO terhadap Serbia pada April 2000. NATO mendapat kabar soal kamp konsentrasi untuk pembersihan etnis ala Holocaust oleh Serbia terhadap etnis Albania dan Kosovo. Kamp konsentrasi itu tidak terbukti.

Hancurnya Irak juga dipicu hoaks.  Diawali dari testimoni remaja putri Kuwait, Nariyah, di Kongres AS pada 1990 tentang prajurit Irak yang membunuh puluhan anak balita. Ternyata Nariyah adalah putri duta besar Kuwait. Masih soal Irak, pada 5 Februari 2003 Menlu AS, Colin Powell, melaporkan di Dewan Keamanan PBB soal kepemilikan senjata pemusnah massal oleh Irak. Presiden AS George W. Bush akhirnya menginvasi Irak untuk menurunkan Presiden Saddam Hussein. Senjata biologi dan kimia milik Irak sampai sekarang tidak pernah terbukti ada. Namun, Irak telanjur hancur oleh perang.

Kini, dengan masifnya penggunaan media sosial oleh masyarakat, hoaks semakin bertebaran di Indonesia. Kementerian Kominfo menyebut ada 175 konten hoaks selama Januari 2019, meningkat 14 kali dibandingkan bulan-bulan sebelumnya. Hoaks yang berkaitan dengan pemilu pada Januari 2019 mencapai 81 konten.

Yang jadi kekhawatiran adalah pemilu yang menimbulkan polarisasi yang jika ditambah bumbu hoaks bisa menyebabkan konflik di masyarakat. Kita patut berkaca pada Suriah yang kini hancur gara-gara perang. Konflik di Suriah 75% diawali hoaks di medsos.

Pengamat terorisme dari Solo, Amir Mahmud, bercerita pada awal Desember 2018 lalu berkunjung ke Suriah bersama sejumlah kalangan, termasuk Mabes Polri. Tujuannya melihat konflik di sana. Mereka bertemu ulama setempat, tokoh, hingga pejabat pemerintahan.

Dalam kunjungan itu, Amir mendapati Suriah dalam keadaan morat-marit. Gedung-gedung hancur. Kehidupan sosial  terganggu. Tidak ada kehidupan normal. “Hancurnya negeri, 75% karena hoaks melalui medsos,” ujar Amir di rumahnya di Gonilan, Kartasura, Sukoharjo, Selasa (29/1).

Angka itu bukan dari Amir namun ulama dan orang-orang Suriah sendiri. Konflik yang mendera Suriah adalah perang antara tentara pemerintah di bawah Presiden Basyar al-Assad dan oposisi, termasuk Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS). Banyak orang dari luar Suriah termasuk Indonesia yang berbondong-bondong bergabung dengan ISIS untuk melawan Basyar al-Assad. Kini, tentara ISIS terdesak terus dari wilayah kekuasaannya.

Menurut Amir, sudah jamak terjadi dalam sebuah negara ada yang pro dan kontra terhadap pemerintah. Namun, karena informasi diaduk sedemikian rupa dibumbui hoaks, akhirnya yang terjadi adalah konflik dan perang. Amir menyebut konflik di sana 75% disebabkan hoaks. Misalnya di sana berlangsung konflik suni-syiah. Di Suriah, Amir bertemu dengan pejabat pemerintah yang sebagian sunni. Dia juga bertemu ulama-ulama suni. Salah satunya tokoh majelis ulama Suriah Dr. Taufik Ramadhan Al Buthi. Taufik adalah putra ulama suni berpengaruh Said Ramadhan Al Buthi, penulis berbagai buku salah satunya Fiqhus Sirah. Buku itu diterjemahkan dan banyak dibaca oleh muslim Indonesia. Said Ramadhan Al Buthi meninggal pada 21 Maret 2013 akibat serangan bom bunuh diri saat mengisi pengajian di Masjid Jami’ Al Iman, Damaskus, Suriah.

Jika konflik sudah terjadi, rakyatlah yang menderita, gedung-gedung hancur, rakyat menderita. Menurut Amir, apakah orang yang memicu konflik akan bertanggung jawab? Tentu saja tidak.

Karena itu, dia mengajak masyarakat untuk mewaspadai hoaks yang berpotensi memicu perpecahan dan konflik. Apalagi 2019  adalah tahun politik. Jangan sampai kasus Suriah terjadi di Indonesia. “Jangan Suriahkan Indonesia,” kata lulusan Afghanistan itu.

Pendiri Amir Institute itu berharap masyarakat menjaga Indonesia yang damai, aman, nyaman. Dia meminta masyarakat mewaspadai anasir yang membawa Indonesia ke jurang perpecahan.