Pembuatan DED Pasar Legi Solo Tertunda, Ini Biang Keroknya

Kerja bakti membersihkan sisa kebakaran di Pasar Legi Solo, Minggu (11/11 - 2018). (Solopos/Nicolous Irawan)
14 Februari 2019 20:15 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Gangguan pada migrasi Sistem Pengadaan Secara Elektronik (SPSE) dari 3.6 ke 4.3 mengakibatkan proyek pembangunan Pasar Legi Solo tersendat. Seharusnya, proses lelang detail engineering detail (DED) bisa dimulai Januari lalu, namun tertunda hingga pekan kedua Februari ini.

Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Kota Solo, Subagiyo, mengatakan anggaran penyusunan DED itu mencapai Rp600 juta sehingga harus melalui lelang.

“Kami enggak bisa menunjuk [rekanan] langsung karena anggarannya besar. Karena SPSE masih eror, proses lelang tidak bisa dimulai sehingga pembangunannya mau enggak mau juga tertunda,” kata dia kepada wartawan di Rumah Dinas Loji Gandrung, Rabu (13/2/2019).

Subagiyo mengatakan anggaran untuk pembangunan Pasar Legi dipatok Rp177 miliar yang bersumber dari Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR).

“Pembangunan Pasar Legi termasuk satu dari sembilan pasar yang anggaran pembangunannya menggunakan dana dari Kementerian PUPR. Kami sedang menunggu Peraturan Presiden karena anggaran pembangunan ini cair untuk pasar-pasar yang terkena musibah,” jelasnya.

Konsep DED Pasar Legi, sambung Subagiyo, terdiri dari tiga lantai, yakni basement, semi-basement, dan lantai I. Basement untuk parkir, semi-basement untuk pedagang, dan lantai I untuk pedagang oprokan.

“Konsepnya dari [pemerintah] pusat itu pasar ramah lingkungan. DED inilah yang dinilai paling sesuai,” kata Subagiyo.

Gangguan pada SPSE juga berpengaruh pada penataan Jl. Jenderal Sudirman. Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, memberi saran kepada pemenang lelang nantinya untuk menambah sif pekerja menjadi tiga.

“Otomatis waktu lelang yang panjang karena sistemnya ngadat itu berpengaruh terhadap waktu pelaksanaan pembangunan. Rencana awal sebelum Lebaran selesai, ini bisa molor. Makanya nanti tiga sif. Risikonya, nilai tawar lebih mahal,” kata dia.

Kerusakan itu, sambung Rudy, cukup berpengaruh pada serapan anggaran. Pasar Legi yang terbakar akhir Oktober 2018 lalu membutuhkan pembangunan segera karena merupakan pasar induk terbesar di Kota Solo.

Pasar ini semula direncanakan dibangun kembali dengan konsep hanggar satu lantai, namun kemudian desain itu diubah. Pemkot menargetkan pasar itu bisa dibangun tahun ini.