Bayi di Boyolali Ini Terlahir Tanpa Anus, Jantung Bocor, dan Sakit Ginjal

Anke Indah Mawarni, 39, warga Kampung Ranudimejan, Kelurahan Banaran, Kecamatan Boyolali Kota, Boyolali, menemani bayinya Sagan Al Fatih, 6 bulan, di rumahnya, Rabu (13/2/2019). (Solopos - Akhmad Ludiyanto)
14 Februari 2019 14:20 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Saat Anke, 39, mulai siuman pascaoperasi caesar kelahiran putra keduanya, dia merasakan tubuhnya masih sangat lemah. Namun warga Kampung Ranudimejan, Kelurahan Banaran, Kecamatan Boyolali Kota, Boyolali, itu merasa bahagia karena ada banyak kerabat menemaninya di RSU PKU Aisyiyah Boyolali, 7 Agustus 2018 lalu.

Perlahan, tenaganya mulai pulih dan dia bisa melakukan gerakan-gerakan kecil di ranjang rumah sakit tempat dia harus beristirahat. Tapi saat itu dia merasa ada yang janggal. Saudara dan kerabat tetap berada di sekelilingnya dalam jangka waktu yang lama.

Anke yang bernama lengkap Anke Indah Mawarni ini pun memberanikan diri untuk menanyakan apa yang terjadi dan di mana bayinya. “Saya curiga, ada apa-apa dengan anak saya. Lalu mereka bilang bayinya masih dalam ruang perawatan,” kata Anke saat ditemui Solopos.com, di rumahnya, Rabu (13/2/2019).

Belakangan dia diberi tahu bahwa bayinya mengalami kelainan di bagian anus. “Anak saya punya anus tapi karena ususnya pendek jadi anusnya rapat dan tidak tersambung dengan usus. Lalu anak saya langsung dibawa ke umah sakit RSUP dr. Soeradji Klaten,” ujarnya.

Anke sangat sedih dengan kondisi anaknya yang dinamai Sagan Al Fatih, namun dia hanya bisa pasrah karena dia juga harus berada di rumah sakit untuk memulihkan diri.

Bocor Jantung

Pemilik warung makan ini menambahkan di rumah sakit Klaten tersebut Sagan dioperasi di bagian pinggang untuk mengganti lubang anus. Setelah beberapa hari kemudian kondisinya membaik, Sagan dibawa pulang ke Boyolali dan berkumpul dengan keluarga.

“Tapi beberapa hari kemudian, Sagan kelihatan sesak napas dan badannya agak biru. Lalu kami bawa ke PKU [Aisyiyah Boyolali], tetapi mereka tidak sanggup karena badan anak saya sudah biru, lalu kami bawa anak saya ke Klaten lagi. Setelah diperiksa di sana, diketahui bahwa anak saya juga mengalami kebocoran jantung,” ujar Anke sambil melayani pembeli di warungnya.

Anke melanjutkan ceritanya. Selain mengalami masalah di anus dan jantung, Sagan juga diketahui mengalami gangguan pada ginjalnya. “Kata dokter, kalau Sagan pipis sebagian urinenya keluar, tetapi sebagian kembali lagi ke ginjal. Makanya sekarang juga dipasangi kateter,” kata Anke yang terlihat tabah.

Atas penderitaan anaknya itu, istri Susanto, 47, itu harus bolak-balik Boyolali-Klaten untuk memeriksakan kondisi kesehatan Sagan. “Saya dan suami bolak-balik Klaten-Boyolali intuk memeriksakan Sagan. Kalau saya pas ke Klaten, kakaknya [anak sulung] saya titipkan di rumah pakdenya.”

Kontrol

Saat ini mereka fokus pada penanganan medis Sagan khususnya untuk penyembuhan anus buatan. Sedangkan masalah kebocoran jantung dan gangguan ginjal dilakukan berikutnya. “Kontrol ginjal nanti bulan Maret di RS Sardjito Jogja dan kontrol jantung April juga di Jogja.”

Sekitar lima bulan mengurus Sagan, keluarga ini tidak memiliki pemasukan keuangan karena mereka harus menutup warung untuk sementara waktu. Biaya untuk operasional banyak dibantu keluarganya, sedangkan biaya medis sebagian ditanggung BPJS.

Sementara itu, Susanto mengatakan biaya rutin yang dia keluarkan dalam sebulan untuk Sagan sekitar Rp700.000-Rp800.000. “Sekarang warung kami sudah buka lagi untuk menyambung hidup,” kata Susanto,

Keduanya berharap anaknya segera dioperasi agar bisa sembuh dari deritanya sehingga bisa tumbuh normal seperti anak-anak lainnya.