Pembuat Lumpia Delanggu Klaten Rawat Kucing-Kucing Buangan

Amin Saimo, 68 warga Gatak, Delanggu, Klaten merawat kucing buangan di rumahnya. (Solopos - Ponco Suseno)
14 Februari 2019 09:00 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN – Suara meong bersahut-sahutan di depan rumah Amin Saimo, 68, warga RT 007/RW 002, Lemburejo, Gatak, Kecamatan Delanggu, Klaten, Senin (11/2/2019).

Siang itu, delapan ekor kucing jenis kampung membuntuti Amin yang membawa makanan khusus kucing. Ditaruhnya makanan mirip permen berwarna cokelat itu di lantai teras rumah. Dalam sekejap, delapan ekor kucing Amin langsung menyantap makanan khusus kucing itu dengan lahap.

Delapan kucing yang dirawatnya itu sebenarnya bukan milik Amin Saimo. Bahkan, pria yang sehari-hari bekerja sebagai pembuat lumpia di Delanggu ini mengaku tidak suka melihat kucing. Namun ketidaksukaan Amin terhadap kucing berubah 180 derajat dalam satu dekade terakhir.

Perubahan itu berawal saat seringnya Amin Saimo melihat kucing jenis kampung yang sengaja dibuang pemiliknya di sawah di Delanggu. Amin Saimo mengetahui kucing jenis kampung yang ada di sawah itu merupakan kucing buangan alias kucing liar. Sejumlah kucing yang sudah tak bertuan itu dibawa pulang ke rumahnya untuk dirawat.

“Alasan saya merawat kucing ini karena saya mesakke [tak tega] dengan kondisinya. Ada yang kurus karena tak pernah makan. Ada pula yang kena penyakit pilek. Kadang ada juga yang pincang karena tertabrak kendaraan atau memang cacat dari lahir. Saya ikhlaskan diri untuk merawat kucing-kucing ini,” kata Amin Saimo, saat ditemui Solopos.com di rumahnya.

Sebagai orang awam dengan dunia kucing, Amin Saimo mengaku merawat kucing dengan autodidak. Hal pokok yang dilakukan Amin Saimo yakni mencukupi kebutuhan makan sehari-hari untuk delapan ekor kucingnya. Saat melihat salah satu kucing sakit pilek, Amin Saimo memperlakukan kucing itu seolah manusia.

“Seperti salah satu kucing di sini ada yang pilek. Saya tak tahu harus memberi obat apa? Akhirnya, saya berinisatif memberikan minuman dicampur dengan Komix [obak batuk untuk manusia],” katanya.

Amin Saimo juga mengumbar kucing yang ditemukan di kompleks rumahnya. Selama merawat kucing liar itu, Amin Saimo memperoleh dukungan penuh dari keluarganya. Dalam sehari, Amin Saimo biasanya menyediakan pakan khusus kucing hingga hampir satu kilogram. Harga pakan khusus kucing senilai Rp29.000 per kilogram.

“Hasil dari menjual lumpia saya sisihkan untuk membeli pakan kucing. Terkadang, saya juga diberi uang oleh anak saya yang sudah bekerja. Begitu kucing yang saya rawat itu gemuk atau sudah sehat, biasanya juga menghilang begitu saja. Soalnya memang saya umbar di dekat rumah. Tidak dimasukkan ke kandang khusus. Yang penting, saya tak melihat lagi ada kucing keleleran di sawah, jalan, atau pun di tempat lainnya lagi,” katanya.

Salah satu warga di Gatak, Kecamatan Delanggu, Klaten, Listy, 34, mengaku jarang menemui sosok yang peduli dengan nasib hewan terlantar seperti Amin Saimo. Terlebih, tetangganya tersebut rela mengeluarkan uang untuk membeli pakan kucing. “Hebat. Masih ada yang peduli dengan hewan telantar seperti Pak Amin ini,” katanya.