Jamal Wiwoho Calon Tunggal Rektor UNS Solo

Tiga calon rektor UNS Solo, Sutarno (kiri), Jamal Wiwoho (tengah), dan Widodo Muktiyo, berjabat tangan setelah melakukan musyawarah di Ruang Rapat Senat UNS, Kamis (14/2 - 2019). (Istimewa)
15 Februari 2019 16:35 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Guru Besar Ilmu Hukum Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jamal Wiwoho, menjadi calon tunggal rektor kampus negeri tersebut. Jamal terpilih menjadi calon tunggal setelah dua calon lainnya sepakat mendukung dia.

Dua calon tersebut yakni Widodo Muktiyo dan Sutarno. Kesepakatan itu setelah ketiga calon bertemu pada Kamis (14/2/2019).

Sementara itu, setelah pengumuman terpilih menjadi calon tunggal, kediaman Jamal Wiwoho di Jl. Manunggal I/43, Kadipiro, Banjarsari, Solo, dipadati tamu pada Kamis sore. Tak hentinya orang datang untuk mengucapkan selamat.

Selanjutnya Jamal yang saat ini menjabat sebagai Inspektur Jenderal (Irjen) Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) akan ditetapkan sebagai rektor UNS dalam rapat senat Maret mendatang.

Berdasar informasi yang dihimpun Solopos.com, dua calon rekor UNS lainnya Widodo Muktiyo dan Sutarno sepakat mendukung Jamal sebagai rektor UNS. Keduanya menandatangani kesepakatan bermeterai terpilihnya Jamal sebagai rektor UNS menggantikan Ravik Karsidi.

Dalam musyawarah mufakat Kamis siang, Widodo dan Sutarno bersepakat memilih Jamal sebagai calon tunggal karena Guru Besar Ilmu Hukum UNS tersebut mendapatkan suara terbanyak saat Sidang Senat UNS, Rabu (6/2/2019).

Kala itu, Jamal mendapatkan 69 suara, Sutarno 40 suara, dan Widodo Muktiyo 12 suara. Jamal mengakui musyawarah mufakat yang menghadirkan dirinya membahas mengenai penentuan rektor.

”Upaya yang kami lakukan demi kepentingan UNS. Itu semua demi yang terbaik bagi UNS. Saya tidak ingin hanya karena masalah politik pemilihan rektor baru UNS jadi ada bermusuhan. Memang tadi membahas mengenai penetapan rektor baru. Tiga calon yang terpilih dihadirkan. Tujuan kami hanya satu, membuat UNS menjadi yang lebih baik lagi,” ujar Jamal saat ditemui Solopos.com di rumahnya, Kamis.

Lelaki kelahiran Magelang, 8 November 1962, ini saat ini masih aktif sebagai Irjen Kemenristekdikti yang bertugas menyelenggarakan pengawasan internal di lingkungan Kemenristekdikti.

Jamal menyatakan akan membawa UNS ke ranah internasional dan digital. Di samping berbagai pengembangan akselerasi yang dijanjikan, visi dan misinya lebih menekankan pada perkembangan teknologi informasi dan komunikasi berdasarkan literasi data, literasi teknologi, dan literasi manusia.

Dosen Hukum itu berusaha membuat UNS menjadi Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN BH) yang terbaik. Ia juga berjanji meningkatkan mutu pendidikan, transparansi keuangan, sarana dan prasarana, kesetaraan dan kesejahteraan bagi semua mahasiswa, termasuk mahasiswa difabel.

Menurut Jamal, tahap selanjutnya yang akan ia lalui adalah sidang senat tertutup. "Sidang senat tertutup tetap terjadwal sebagaimana semestinya. Nantinya acara tersebut menghadirkan Menristekdikti. Ini adalah tahap yang harus dilalui sebagaimana mestinya, mulai dari penjaringan hingga penentuan rektor baru,” ujar dia.

Visi dan Misi UNS

Jamal mengaku akan memilih orang-orang terbaik UNS untuk menduduki jabatan yang sesuai. ”Ini bukan politik dagang sapi. Nantinya [semua] demi kemajuan UNS. [Akan dipilih] bila ada putra-putri yang tepat menduduki jabatan tersebut. Semua demi kebaikan dan kemajuan UNS,” ujarnya.

Rektor UNS, Ravik Karsidi, mengatakan pemilihan rektor merupakan upaya bersama demi meningkatkan kepentingan UNS. “Rektor baru yang terpilih akan membawa nama baik UNS menjadi PTN BH yang terbaik,” ujar dia.

Dia juga menyampaikan visi dan misi UNS yang harus dikembangkan oleh rektor baru. ”Dalam rangka UNS menuju world class university [WCU] 2030, rencana jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang telah disusun. [Kami harap] oleh rektor yang baru rencana tersebut dapat disempurnakan dan terwujud,” kata dia.

Widodo Muktiyo mengaku tak kecewa dengan keputusannya mendukung Jamal. ”Setelah musyawarah mufakat tadi saya bersama Sutarno tidak melakukan adu otot dengan rektor yang terpilih. Semua kami lakukan demi membangun UNS yang lebih baik lagi,” ujarnya saat dihubungi Solopos.com melalui telepon.

Dia mengaku musyawarah mufakat yang dilakukan untuk meminimalkan rivalitas antarcalon rektor. ”Banyak perguruan tinggi yang konflik saat terjadi pemilihan rektor. Kinerja perguruan tinggi menjadi tercoreng karena adanya permusuhan antara calon satu dengan calon yang lain,” ujar dia.

Sutarno mengatakan setelah musyawarah mufakat yang membahas penetapan rektor UNS tidak ada perkelahian dengan calon satu dengan yang terpilih. “Semuanya kami lakukan demi kemajuan UNS,” ujar dia.