Nekat, Bakul Duren Sragen Ini Panggul Mortir Aktif Seberat 20 Kg

Tim penjinak bom dari Brimob Polda Jateng memeriksa mortir temuan petani di Dukuh Bayut RT 012, Desa Jambeyan, Sambirejo, Sragen, Jumat (15/2/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
15 Februari 2019 17:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Lingkungan RT 012, Dukuh Bayut, Desa Jambeyan, Sambirejo, Sragen, dibikin heboh dengan ulah Maridi, 41, Jumat (15/2/2019).

Pada pukul 07.00 WIB, laki-laki bakul duren itu membawa material besi berkarat dari tegalan milik bapaknya, Mitro Wiyono, 63, yang berjarak 200 meter dari rumahnya yang terletak di pinggir Waduk Gebyar.

Maridi sadar besi tua yang dipanggul di pundaknya itu mortir diduga milik militer Belanda pada masa perang kemerdekaan. Ulah Maridi itu membikin ngeri para polisi dari Polsek Sambirejo.

Apalagi saat Maridi menggoyang-goyangkan mortir itu membuat khawatir para polisi yang berjaga. “Jangan dibegitukan! Kok kendel men [kok berani banget]. Pokoknya jangan ada getaran karena bisa meledak,” kata Kapolsek Sambirejo AKP Saptiwi mewakili Kapolres Sragen AKBP Yimmy Kurniawan.

Mortir seberat 20 kg dengan panjang 52 cm dan lingkar tabung 36 cm itu ditemukan bapaknya saat mencangkul tanah di tegalan pada Rabu (13/2/2019) lalu. Saat itu, ujung cangkul Mitro Wiyono membentur benda keras.

Kedalaman cangkulnya hanya 15 cm. Mbah Tono, demikian sebutan Mitro Wiyono, menggali benda keras itu. Ternyata benda tersebut mortir yang menancap di tanah.

“Mortir itu menancap miring. Pangkalnya di atas arah timur. Mortir itu milik pasukan Belanda. Dari cerita simbah-simbah dulu, wilayah Bayut ini merupakan tempat berperang. Di Waduk Gebyar itu dulunya menjadi tempat penyimpanan logistik perang. Katanya, mortir itu dijatuhkan tentara Belanda dari arah Gondang dan Kepoh yang menjadi markas Belanda kala itu,” ujar Mbah Tono saat berbincang dengan Solopos.com di kediamannya, Jumat siang.

Sebelum dibawa pulang oleh Maridi, mortir itu sempat dibersihkan istri Mbah Tono, Marinem, 61, menggunakan sabit. “Teyenge niku kula kerok. Menawi sampun ajeng kula gendong. [Karatnya itu saya kerok. Kalau sudah selesai mau saya gendong],” kata Marinem sambil menunjukkan lokasi penemuannya.

Marinem diperingatkan Bayan Jambeyan agar meletakkan mortir karena khawatir meledak. Kemudian Marinem meminta anak laki-lakinya, Maridi, membawa pulang mortir itu. Maridi tak berpikir mortir itu masih aktif dan bisa meledak.

Ia mengira mortir itu seperti barang rongsokan. Temuan itu pun kemudian dilaporkan ke Polsek Sambirejo. Kapolsek Sambirejo AKP Saptiwi langsung melokalisasi lokasi mortir yang diletakkan di depan rumah Siswo Sumarno, 54, yang terletak bersebelahan dengan rumah Mbah Tono.

Lokasi mortir dipagari garis polisi sembari menunggu tim penjinak bom dari Brimob Polda Jateng. Empat jam tim Polsek menunggu. Tim Penjinak Bom (Jibom) Gegana Brimob Polda Jateng yang dipimpin Iptu Maruto Yono.

Tim yang berjumlah empat orang itu datang bersama Kasat Sabhara Polres Sragen AKP Agung Ari Purnowo. Maruto langsung memeriksa mortir itu. Bagian ujung mortir dilapisi dengan ujung botor air mineral dan dilakban. Ujung mortir itulah yang menjadi pemicu terjadinya ledakan.

Dari hasil identifikasi tim Brimob Polda Jateng, mortir tersebut masih aktif dan termasuk kategori bendak peledak (bom) dengan high explosive. Daya ledakannya diperkirakan bisa sampai radius 250 meter.

Tim Brimob menduga mortir itu dibuat pabrikan dan milik militer Belanda. Ketika melihat wujud mortirnya, mereka menduga mortir itu dijatuhkan dari pesawat.

“Mortir ini kami amankan sementara. Kami akan memusnahkan mortir ini dengan cara disposal atau diledakkan. Disposal mortir ini harus dilakukan di tempat yang jauh dari penduduk, yakni 1-2 km. Cara meledakkannya harus dipancing dengan bahan peledak juga. Mortir ini besar karena beratnya 20 kg,” ujar Kanit Jibom Gegana Brimob Polda Jateng Iptu Maruto Yono saat ditemui Solopos.com setelah mengevakuasi mortir dari rumah warga.

Tim Brimob membawa mortir itu ke tengah hutan karet di wilayah Afdeling Kepoh Sambirejo. Di dalam alat karet dengan radius 1 km lebih dari permukiman penduduk itulah mortir itu diledakkan.

Proses peledakannya dilakukan pada jarak minimal teraman di radius 100 meter dari lokasi peledakan agar tidak terkena serpihan material mortir. Pelaksanaan disposal juga harus memerhatian cuaca karena saat mendung atau hujan disposal justru bisa berdampak lebih luas karena adanya listrik statis.