Sehari Berpesta Durian dan Kopi Lokal Unggulan Wonogiri

Pengunjung memadati salah satu penjual durian dalam Jajan Durian dan Kopi Unggulan Asli Wonogiri di Rumah Kreatif BUMN jalan Wonogiri-Ngadirojo, Ngadirojo, Kamis (14/2/2019). (Solopos - Cahyadi Kurniawan)
15 Februari 2019 09:00 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -- Wangi durian menyeruak memenuhi ruang di bawah tenda di halaman Rumah Kreatif BUMN jalan Wonogiri-Ngadirojo, Ngadirojo, Kamis (14/2/2019). Puluhan durian berhimpun dalam keranjang-keranjang milik pedagang ditambah ratusan durian di bak mobil pikap.

Saat mobil itu tiba, orang-orang langsung menyerbu dan mengelilinginya. Mereka melihat-lihat, memilih, lalu mencium bau durian. Jika tak cocok, mereka mencari durian lain yang baunya disukai.

Kemudian mereka memberikan durian yang dipilih kepada penjual untuk diikat. Tak sedikit pula yang memilih memakan di tempat di meja-meja yang disediakan panitia. Harga durian itu bervariasi mulai termurah Rp35.000 hingga Rp120.000 tergantung ukurannya.

Selain durian, acara bertajuk Jajan Durian Lokal dan Kopi Asli Wonogiri itu juga menjajakan aneka produk kopi dalam bentuk minuman maupun kopi mentah. Warga bisa menikmatinya tanpa harus mendatangi ke daerah penghasil kopi misalnya Bulukerto dan sekitarnya.

Selain itu, dalam acara yang digelar selama sehari itu pengunjung juga membeli aneka suvenir khas Wonogiri hingga bibit unggul durian dan tanaman buah lainnya. Salah satu pengunjung, Sangadi Atmojo, 57, mengaku membeli tiga butir durian seharga Rp150.000.

Ia memilih buah yang salah satunya berlubang dimakan tupai. Bagi dia, buah jenis itu lebih mantap lantaran benar-benar masak.

“Nanti bisa makan bareng keluarga di rumah. Saya waktu muda juga pencinta durian. Karena melihat umur, kini mulai menjaga konsumsinya,” ujar pria asal Sukoharjo itu saat berbincang dengan Solopos.com di Rumah Kreatif BUMN jalan Wonogiri-Ngadirojo, Ngadirojo, Kamis (14/2/2019).

Sangadi menilai acara itu bagus untuk menarik wisatawan apalagi pencinta durian datang ke Wonogiri menikmati durian lokal. Namun, sayangnya, upaya sosialisasi dinilai kurang.

Pengunjung mayoritas adalah aparatur sipil negara (ASN). Ia berharap acara itu bisa dinikmati semua lapisan masayrakat khususnya pencinta durian di daerah. “Kalau saya lihat mungkin 90 persen ini pegawai negeri. Masyarakat umum belum terambah,” ujar dia.

Ia berharap ke depan acara serupa bisa digelar dengan stan khusus untuk mewadahi aneka produk unggulan Wonogiri baik durian, rambutan, kopi, dan komoditas lainnya. Menurut dia, hal itu bisa menarik wisatawan untuk singgah mengingat lokasi RKB berada di jalur lalu lintas yang strategis. “Kalau soal harga sih relatif ya. Saya beli tiga habis Rp150.000,” kata dia sembari memperlihatkan duriannya.

Salah satu petani durian, Rimo, sangat senang bisa mengikui Jajan Durian yan digelar oleh Dinas Perindustrian Perdagangan Koperasi dan UMKM Wonogiri itu. Ia membawa seratusan durian dalam acara itu dan habis tak lama begitu dirinya sampai.

Dari seratusan itu, ia membawa 15 butir durian Pogog. “Yang durian pogog habis dipesan kepala-kepala dinas, ini tinggal alpukat dan pepaya. Semuanya produk unggulan Pogog,” kata pria yang juga Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Mulyo Pogog.

Ia berharap petani bisa diberi waktu lebih panjang untuk mempersiapkan produk. Rimo menjelaskan keterbatasan waktu membuatnya tak bisa menyiapkan durian banyak-banyak. Kendati memang di Pogog sedang ada stok melimpah.

Stok itu habis dipesan tamu-tamu yang datang dari berbagai daerah. “Saya juga membawa bibit durian super unggul pogog. Harganya mulai dari Rp70.000-Rp120.000 per batang. Pengunjung juga bisa menikmati durian Pogog di daerah asalnya tapi harus pesan dulu lewat Whatsapp,” kata Rimo.