Bangjo Belakang Kampus UNS Solo Dianggap Tak Ada, Kenapa?

Pengendara sepeda motor tidak memakai helm dan menerobos alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) saat masih berwarna merah di perempatan Jl. Ki Hajar Dewantara, Ngoresan, Jebres, Solo, Jumat (15/2/2019). - Nicolous Irawan
16 Februari 2019 20:00 WIB Ichsan Kholif Rahman Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Satuan Lalu Lintas (Satlantas) Polresta Solo telah menjalankan uji coba Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) di tiga ruas jalan utama Kota Solo sejak Rabu (13/2). Hingga Jumat (15/2), sebanyak delapan pelanggar lalu lintas terekam Satlantas Polresta Solo untuk mendapat surat konfirmasi ETLE yang kadang disebut sebagai e-tilang. Hasilnya, perilaku pengendara di tiga ruas jalan protokol Jl. Slamet Riyadi, Jl. Adisucipto, dan Jl. Ahmad Yani menjadi tertib berlalu lintas.

Namun, di simpang empat Ngoresan, Jebres, sebelah utara pintu utara Universitas Sebelas Maret (UNS), ada perilaku yang berbanding terbalik dengan di tiga kawasan itu. Pengendara motor dan mobil mengabaikan lampu lalu lintas.

Berdasarkan pantauan Solopos.com, Jumat (15/2), pengendara tidak memedulikan alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) di persimpangan itu. Hanya beberapa kendaraan berhenti ketika APILL berwarna merah untuk. Pengendara yang berhenti merupakan sosok yang kuat menghadapi godaan saat pengendara lainnya memilih melanggar APILL itu.

Seperti pada Jumat, sebuah minibus yang melaju dari arah barat berhenti tepat di belakang garis markah. Pengendara motor lainnya justru membunyikan klakson yang meminta minibus berwarna putih itu untuk melaju. Padahal APILL saat itu berwarna merah. Ketika lampu berwarna hijau, minibus melaju namun terjadi tabrakan arus dari arah timur yang menerobos APILL. Pengendara sepeda motor yang kebanyakan mahasiswa itu tak peduli lampu merah.  Bahkan, mereka tidak memakai kelengkapan berkendara yakni helm.

Salah satu mahasiswa UNS, Reza Pratama, saat ditemui Solopos.com di kawasan UNS menyebut APILL tersebut dianggap tidak ada oleh pengendara. Menurutnya, ketika pengendara mencoba tertib berlalu lintas, justru terkesan pengendara tersebut salah.

“Saya kalau lampu sedang merah berhenti malah takut ditabrak dari belakang. Selain itu, malah di-bully pengendara lain yang melintas,” ujarnya.

Namun, ketika lalu lintas di kawasan itu sedang macet, pengendara secara tidak langsung akan tertib. Bahkan, beberapa waktu lalu ada orang yang memasang tulisan “Dan anggaplah aku seperti yang lain” yang diletakkan di tiang APILL. Menurutnya, hal itu sebagai ungkapan kekesalan akibat pengendara tak menganggap ada APILL.

Sementara itu, di simpang Gendengan pengendara lalu lintas berjalan tertib. Tidak ditemukan pengendara yang berhenti melewati garis batas markah. Seluruh pengendara juga menggunakan helm dan spion yang lengkap. Setelah tiga hari pelaksanaan ETLE masih banyak pengendara yang celingukan untuk mencari tahu lokasi kamera pengawas alias CCTV.

Bintara Urusan Tilang, Aiptu Epen Supendi, mewakili Kasatlantas Polresta Solo Kompol Imam Safii mengatakan selama tiga hari diterapkan sebanyak delapan pengendara memperoleh surat konfirmasi ETLE. Tujuh pelanggaran melanggar markah batas dan satu di antaranya tidak menggunakan helm di tiga lokasi yang berbeda.

“Simpang Ngoresan belum terpasang kamera pengawas untuk saat ini. Kalau e-tilang ada tambahan tiga orang yang melanggar markah jalan. Saat ini pengendara cenderung tertib,” ujarnya.

Lima orang yang tertangkap kamera pengawas e-tilang dua di antara mereka telah ke Kantor Satlantas untuk memberikan keterangan terkait pelanggaranya. Menurutnya, dua orang tersebut mengakui kesalahannya dan bersedia membayar denda ke bank. Kedua pelanggar itu sangat kooperatif terhadap petugas. Surat izin mengemudi disita petugas dan pelanggar diberi surat tilang.