9 Sekolah di Solo Siap Menerima Anak dengan HIV/AIDS

Ilustrasi HIV - AIDS. (Solopos/Whisnupaksa Kridhangkara)
16 Februari 2019 16:30 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Sebanyak sembilan sekolah dasar (SD) di Kota Solo menyatakan kesiapannya menerima anak dengan HIV/AIDS (ADHA) yang dikeluarkan dari sekolah lama.

Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Solo, Etty Retnowati, mengaku masih menggodok strategi teknis agar mereka tetap bisa mendapatkan hak mengakses pendidikan.

“Kami merahasiakan sembilan SD itu untuk melindungi ADHA yang bersangkutan. Teknis pemindahan, apakah ke-14 anak itu kami masukkan satu sekolah, atau terpisah juga masih digodok. Ini untuk menghindari penolakan juga. Sebenarnya sekolah lama bukannya tidak mau menerima. Orang tua siswa sekolah itu yang keberatan,” kata dia saat ditemui wartawan di Balai Kota Solo, Jumat (15/2/2019).

Solusi selain pemindahan, sambungnya, adalah mengadakan kelas kecil dengan mengundang guru (homeschooling) atau mengirim mereka ke sekolah informal. Etty mengaku masih menimbang berbagai solusi.

“Kami sudah berbicara dengan Kementerian Pendidikan, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), dan berbagai instansi lain. Termasuk orang tua ADHA lain yang tidak dirawat oleh Yayasan Lentera," ungkap dia. 

Diberitakan sebelumnya, sebanyak 14 anak usia sekolah di Solo terpaksa tercerabut hak untuk mendapatkan pendidikan gara-gara stigma sebagai pengidap HIV/AIDS. Mereka terpaksa tidak bisa melanjutkan sekolah di salah satu SD wilayah Laweyan, Solo, karena beberapa orang tua murid lain di SD itu waswas anak-anak mereka tertular penyakit tersebut.

Pada bagian lain, Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengaku sebagian besar orang tua siswa di Solo belum memiliki kesadaran untuk menerima ADHA ditengah-tengah mereka. Hal itu terjadi akibat kurangnya pengetahuan mengenai penyakit HIV/AIDS.

“Sudah ada Warga Peduli AIDS (WPA) yang terus sosialisasi. Tapi mereka (orang tua siswa) enggak mau tahu,” kata Rudy.

Opsi homeschooling, kata dia, menjadi alternatif terbaik untuk menghindari penolakan serupa. Kendati begitu, ia berujar solusi itu terkesan diskriminatif karena memisahkan ADHA dengan anak lainnya.

“Tetap saya carikan sekolah, entah negeri atau swasta. Mungkin yang siswanya sedikit agar sosialisasi ke orang tua siswa di sekolah itu lebih mudah. Yang jelas, kami koordinasi dengan sekolah yang mudah diakses anak-anak itu,” tegas Rudy.

Terpisah, Ketua Yayasan Lentera, Yunus Prasetyo, mengaku tetap menginginkan anak-anak Yayasan Lentera bisa bersekolah di sekolah formal. Menurutnya, opsi homeschooling bukan solusi, karena kebutuhan anak tak sekadar pendidikan. Mereka juga butuh sosialisasi, bermain, dan melihat dunia luar.

Pengelola Yayasan Lentera, Puger Mulyono, mengatakan penolakan ini bukanlah kali pertama, melainkan kali ke-21.

“Sekolah yang menolak sudah 21 kali dengan ini sejak 2012. Kalau pindah rumah sudah empat kali. Kami sudah terbiasa dengan penolakan. Hanya menyayangkan karena terjadi di Kota Solo yang menyandang predikat Kota Layak Anak (KLA),” ucapnya.