BTM 2019 Fokus Gali Potensi Sangiran, Jaladara, hingga Rumah Atsiri

Pengunjung menikmati pemandangan di Rumah Atsiri di Duwun Watusambang, Desa Plumbon, Tawangmangu, Karanganyar, Kamis (12/7 - 2018). (Solopos/Sri Sumi Handayani)
16 Februari 2019 20:30 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :

Solopos.com, SOLO -- Pelaksanaan Bengawan Solo Travel Mart (BTM) 2019 akan menggali lebih banyak potensi wisata di Soloraya. Beberapa di antaranya adalah Museum Sangiran, Padepokan Keris Brojobuwono, Sepur Jaladara, dan Rumah Atsiri.

Diketahui, pada pelaksanaan BTM 2018, hanya ada dua destinasi yang digali, yaitu Wisata Ponggok di Klaten dan Bukit Gancik di Boyolali. Ketua BTM 2019, Wahyu Adi Wicaksono, mengatakan pada pelaksanaan BTM tahun ini panitia akan benar-benar memaksimalkan potensi objek wisata yang ada di wilayah Solo dan sekitarnya.

"Untuk yang baru itu ada Rumah Atsiri. Kemudian ada destinasi lain yang sebenarnya bukan baru lagi tapi belum kami gali, seperti pembuatan keris. Sementara travel agent yang kami undang memiliki segmen yang bukan hanya domestik tapi ada juga Eropa. Untuk pengunjung mancanegara tentu butuh hal-hal unik seperti pembuatan keris atau koleksi keris," terang dia saat memberikan keterangan pers di Favehotel Adi Sucipto, Solo, Jumat (15/2/2019).

BTM 2019 yang akan berlangsung pada 17-19 Februari 2019 akan melibatkan sekitar 70 buyer. Mereka berasal dari Makassar, Bali, Jakarta, Bogor, Jogja, Flores, Bojonegoro, Malang, Bandung, Semarang, Surabaya dan Lombok. Kemudian sekitar 50 seller dari Solo yang meliputi kalangan hotel, destinasi wisata, transportasi, oleh-oleh, restoran dan tempat hiburan.

Selain menggali potensi wisata yang telah disebutkan, Adi juga menyebutkan para peserta BTM juga akan diajak mengunjungi Festival Jenang di Plasa Sriwedari pada Minggu (17/2/2019), Boyong Kedaton yang menjadi rangkaian acara ulang tahun ke 274 Kota Solo dan sebagainya.

Menurut Adi, tujuan dari kegiatan BTM adalah untuk meningkatkan pariwisata di Solo dan sekitarnya. "Kami akan kenalkan Solo dengan travel agent dari luar Solo. Harapannya bisa mendatangnya tamu dari luar," lanjut dia.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Solo, Pri Siswanto, mengatakan event BTM telah menjadi kegiatan tahunan.

"Tantangan bagi penyelenggara adalah menyajikan hal yang selalu baru. Itu sebabnya kali ini pelaksanaan BTM kuga akan menggali potensi wisata yang belum pernah digali, jumlahnyapun lebih banyak dari tahun-tahin sebelumnya," kata dia.

Dia juga mengatakan pada BTM tahun ini akan mengusung konsep yang berbeda khususnya untuk pelaksanaan acara Business to Business (B2B).

"Akan kami buat berbeda, yaitu di kuar hotel atau ruang meeting. Kami buat di tempat destinasi, yaitu Dalem Gondosuli," kata dia.

Sementara itu Kepala Dinas Pariwisata Solo, Hasta Gunawan, mengatakan pada pelaksanaan BTM nanti diharapkan ada transaksi. Dengan begitu ada upaya untuk menawarkan Solo ini direspons oleh peserta yang datang. Ditargetkan ada transaksi sekitar Rp2 miliar dari pelaksanaan BTM.

Di sisi lain dia menilai pelaksanaan BTM merupakan event yang menjadi upaya dalam menawarkan potensi Solo. Hubungan baik antara seller dan buyer dinilai menjadi kekuatan dalam mewujudkan upaya tersebut.

"BTM ini menjadi wadah untuk menjaga hubungan seller dan buyer tersebut. Tidak mungkin baru kenal kemudian langsung ada transaksi," kata dia.