Desa di Wonogiri Mulai Cari Cara Lepas dari Dana Desa

Pengunjung berjalan di jalan setapak di tempat wisata Watu Cenik, Sendang, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, belum lama ini. Tempat wisata itu dikelola badan usaha milik Desa Sendang, Sendang Pinilih. Foto diambil belum lama ini. - Rudi Hartono
16 Februari 2019 19:00 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Tidak ada yang bisa menjamin pemerintah akan selamanya menggelontorkan dana desa. Oleh karena itu desa harus sudah mulai bergerak memandirikan desa agar tak hanya bergantung pada dana desa.

Ada desa yang sudah memikirkannya sehingga segera mempercepat akselerasi pembangunan melalui pengembangan potensi. Namun, ada desa yang masih berkutat pada upaya mengubah pola pikir warga, karena mereka masih sulit diajak maju.

Kepala Desa (Kades) Sendang, Kecamatan Wonogiri, Sukamto, saat ditemui Solopos.com di kantornya, belum lama ini, tak memungkiri penggunaan dana desa sejak 2015 hingga tahun ini masih didominasi untuk pembangunan infrastruktur. Porsinya lebih kurang 75%. Pada 2016, Sendang mendapat dana desa senilai Rp605,102 juta, 2017 Rp772,462 juta, dan 2018 Rp760,738 juta. Namun, dia sudah memiliki gambaran ke depan dana desa akan digunakan untuk mengembangkan pariwisata agar Sendang bisa mandiri.

Dia meyakini tempat wisata alam yang dimiliki Sendang dapat diandalkan untuk menghidupi desa. Sebab, potensi wisata di desanya sangat besar. Saat ini Sendang memiliki tiga objek wisata alam, yakni Watu Cenik, Puncak Joglo yang merupakan landasan paralayang dan gantole, dan Soko Gunung. Pemandangan dari tiga lokasi tersebut dinilai Sukamto sangat memukau.

Puluhan ribu orang mengunjunginya setiap tahun. Alhasil, badan usaha milik (BUM) Desa Sendang, Sendang Pinilih, yang mengelola pariwisata itu sejak 2017 dapat meraup pendapatan ratusan juta tiap tahun. Pada 2017, jumlah pengunjung mencapai lebih dari 89.000 orang. Pengelola meraup pendapatan lebih dari Rp310 juta. Pendapatan itu belum termasuk dari retribusi parkir yang dikelola karang taruna.

“Mulai tahun ini saya targetkan BUM desa bisa berkontribusi setidaknya Rp100 juta/tahun untuk PAD [pendapatan asli desa]. Ke depan, potensi ini terus kami kembangkan. Jadi, nanti ada homestay, pusat kuliner, dan sebagainya. Kalau ini terwujud perekonomian warga bisa ikut terdongkrak,” kata Kades didampingi sekretarisnya, Agung Susanto.

Dia menilai peluang destinasi wisata di Sendang untuk berkembang menjadi lebih baik sangat besar. Sebab, Puncak Joglo merupakan landasan paralayang dan gantole bertaraf internasional. Tiap tahun kejuaraan paralayang maupun gantole berskala internasional digelar di lokasi tersebut. Tahun ini kegiatan yang sama kembali digelar dengan jumlah peserta jauh lebih banyak.

“Di kawasan lain ada pemandangan yang tak kalah bagus, yakni kawasan hutan pinus. Saaat ini kami sedang membuka akses jalan. Kalau tempat wisata ini bisa terus dikembangkan, Sendang akan bisa mandiri,” imbuh Kades.

Terpisah, Kades Keloran, Selogiri, Sumaryanto, mengatakan pihaknya mengalokasikan dana desa untuk pengembangan potensi desa mulai tahun ini. Fokus penggunaan dana desa beberapa tahun sebelumnya masih untuk pembangunan infrastruktur. Tahun ini Keloran akan menerima dana desa senilai Rp851 juta. Pemerintah desa setempat akan menggunakannya untuk membuka akses menuju tempat wisata Air Terjun Melati senilai Rp200 juta, memperbaiki 10 unit rumah tak layak huni (RTLH) senilai Rp100 juta, dan lainnya.

Menurut dia, pengembangan potensi desa hingga saat ini belum optimal, karena warga masih sulit diajak berkembang. Dia sedikit demi sedikit mengubah pola pikir warga. “Membangun Keloran butuh perjuangan ekstra keras,” kata Kades.