Petani Wonogiri Kembangkan Bibit Unggul Durian Pogog

Bibit durian Pogog dijual dalam Jajan Durian dan Kopi Asli Wonogiri di Rumah Kreatif BUMN (RKB) Wonogiri, Jl. Ngadirojo-Wonogiri, Ngadirojo, Kamis (14/2 - 2019). (Solopos/Cahyadi Kurniawan)
16 Februari 2019 21:30 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI — Petani durian di Dusun Pogog, Desa Tengger, Kecamatan Puhpelem, Kabupaten Wonogiri, mengembangkan durian super unggul Pogog. Durian ini memiliki tinggi pohon rendah dengan menghasilkan buah hingga berat 10 kilogram per butir.

Durian Pogog merupakan durian montong yang ditanam di Dusun Pogog. Durian ini dikenal memiliki rasa yang lebih manis, daging tebal, serta batang pohon rendah. Pohon durian bisa mencapai panen perdana pada usia 4-5 tahun.

“Selain menghasilkan buah, kami mengembangkan juga bibitnya. Kami ajak semua petani buat bikin bibit dengan standar yang kami tetapkan demi menjaga kualitas,” kata Ketua Kelompok Tani (Poktan) Ngudi Mulyo Pogog, Rimo, saat berbincang dengan solopos.com di Dusun Pogog, Desa Tengger, Puhpelem, beberapa waktu yang lalu.

Setiap tahun, ungkap dia, di Pogog ada ribuan bibit durian unggul ditanam secara swadaya oleh masyarakat. Sebagian dari mereka membeli bibit dengan harga mulai dari Rp120.000 hingga Rp350.000 per batang.

Kendati demikian, bibit-bibit yang ditanam memang betul-betul teruji hasilnya dan jelas asal-usul indukannya. Pemahaman petani soal bibit pohon ini meningkat sejak dibekali pengetahuan pembuatan bibit unggul.

“Sekarang kalau ada bantuan bibit, petani tanya dulu, bibitnya apa? Enggak asal mau menerima karena mereka ingin yang ditanam di sini semuanya unggul,” imbuh Rimo.

Bibit asal Pogog sendiri setiap tahun dijual sebanyak 1.000 – 1.500 batang. Bibit menyebar ke desa-desa tetangga hingga ke luar provinsi. Durian pogog yang tersohor itu turut menaikkan pamor bibit bikinan petani Pogog.

Setiap bibit dijua bervariasi mulai dari Rp55.000, Rp75.000, Rp350.000 hingga Rp600.000 per batang. “Desa-desa lain sudah mulai menanam tapi warga pribadi. Kami sendiri setiap tahun rata-rata menjual 1.000 – 1.500 bibit. Tahun ini mungkin lebih karena sampai hari ini kami sudah menjual 800 bibit pohon,” tutur Rimo.

Bibit asal Pogog, lanjut Rimo, sudah diakui oleh ahli bibit asal Bogor. Ahli itu menilai bibit asal Pogog harus segera memiliki sertifikat paten agar tidak diakui daerah lain. “Saat ini kami sedang mengurus sertifikat benih durian Pogog ini,” terang Rimo.

Tak sekadar menjual bibit, inisiator penanaman Desa Wisata Durian Pogog, Jumali Wahyono Perwito atau yang akrab disapa Mas Jiwo Pogog, mengatakan petani juga memberikan edukasi kepada pembeli bibit yang tergolong pemula agar membeli bibit harga murah atau berukuran kecil.

Hal itu penting agar pembeli belajar merawat durian dan memahami karakter durian. “Kalau misal matipun enggak rugi-rugi banget. Permintaan bibit durian pogog terus tumbuh. Saya semula mengira akan durian Pogog akan surut karena banyak bibit keluar. Ternyata tidak, pasar durian terus tumbuh, permintaan terus tumbuh,” urai Jiwo.

Jiwo mengaku sejumlah desa mulai tertarik mengembangkan durian Pogog di wilayah masing-masing seperti di Desa Sugihan, dan Desa Nadi. Ada pula Karangtengah yang sudah lebih dulu mengembangkan durian dengan membeli bibit durian pogog menggunakan Dana Desa.

“Selain hasil buahnya bagus, dari penanaman durian super unggul ini ternyata juga bisa mendongkrak harga tanah yang ditempatinya. Ini sangat potensial untuk dikembangkan di seluruh lereng Gunung Lawu,” harap dia.