Talut Jembatan Jati Sragen Growong Karena Tergerus Arus Sungai

Talut jembatan penghubung antardesa di perbatasan Dukuh Masaran Kulon dan Dukuh/Desa Jati, Masaran, Sragen, tergerus Sungai Grompol, Minggu (17/2/2019). (Solopos - Tri Rahayu)
17 Februari 2019 20:15 WIB Tri Rahayu Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- Talut jembatan penghubung antardesa yang melintang di atas anak Sungai Grompol wilayah perbatasan Dukuh Masaran Kulon dan Dukuh/Desa Jati, Masaran, Sragen, kondisinya memprihatinkan.

Tanah di sekitar talut tersebut growong karena tergerus arus sungai dan dikhawatirkan bisa berdampak pada bangunan jembatan. Gerusan air sungai itu terjadi sejak setahun lalu.

Arus air juga mengikis tebing sungai di sekitar jembatan tersebut. Warga setempat menyebut jembatan itu sebagai Jembatan Mbah Bloho Jamu karena lokasinya berdekatan dengan rumah almarhum Mbah Bloho Jamu.

Seorang warga di lingkungan RT 003, Dukuh Masaran Kulon, Nanik, 64, mengatakan longsornya tanah di sekitar talut jembatan yang paling parah terjadi sejak musim hujan tahun ini.

Dia mengatakan air sungai yang mengikis tanah di dalam talut sisi timur dan sisi barat. Dia mengaku berusaha menimbun lubang bekas gerusan air sungai itu dengan material seadanya tetapi tidak berpengaruh.

“Gerusan air di sisi timur ini kalau dibiarkan bisa menggerus tanah saya. Rumah saya hanya berjarak sekitar 5 meter dari sungai. Kalau gerusan arus air di talut sisi barat jembatan hanya kebun kosong, walaupun tetap berbahaya," ujar dia.

Menurut Nanik, tanah di sekitar talut itu jadi labil sebagai dampak pembangunan jalan tol, yakni ketika memasang paku bumi. Getaran pemasan paku bumi itu yang menggoyahkan tanah sekitar. "Tembok rumah saya saja sampai retak,” imbuh Nanik.

Nanik melihat tumpukan batu di sebelah barat jembatan itu digunakan untuk mengatasi erosi sungai. Nanik tidak mengetahui batu-batu itu berasal dari mana.

Selain itu, Nanik juga mendengar ada rencana pembangunan tempat pembuangan sampah (TPS) di sebelah barat jembatan atau sebelah timur underpass Desa Jati dengan dana ratusan juta rupiah.

“Saya mendengar hal itu saat rapat rukun tetangga di lingkungan saya. Selebihnya saya tidak tahu,” ujarnya.

Ketua RT 022, Dukuh/Desa Jati, Masaran, Sragen, Suratman, saat ditemui Solopos.com secara terpisah juga menyampaikan hal senada tentang kondisi talut jembatan yang mengkhawatirkan bisa berdampak negatif terhadap jembatan.

Dia mengatakan jalur tersebut merupakan jalur antardesa yang menghubungkan Desa Jati ke Desa Sidodadi dan desa lainnya. “Material batu di barat jembatan itu memang untuk antisipasi talut yang growong. Batu itu merupakan bantuan dari Pak Sekretaris Desa Jati. Seperti itu hanya sementara saja. Solusi permanennya butuh dana besar,” ujarnya.

Suratman juga mendengar adanya rencana pembangunan TPS di sebelah barat jembatan. Dia sudah berembuk dengan warga RT 022 dan bersepakat untuk menolak pembangunan TPS itu karena dampak lingkungannya bisa menganggu warga sekitar.

“Debu jalan tol saja sudah menganggu apalagi ditambah dengan adanya TPS,” tuturnya.