Asale Desa Gedong Karanganyar Konon Dikenal Sarang Penjahat

Kantor Kelurahan Gedong, Kecamatan/Kabupaten Karanganyar, Jumat (8/2/2019). (Solopos - Wahyu Prakoso)
17 Februari 2019 22:15 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Kelurahan di wilayah Kecamatan/Kebupaten Karanganyar ini bernama Gedong. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), gedong memiliki makna gedung dan bangunan gaya Bali membentuk mengecil ke atas.

Hal ini memang tak lepas dari sejarah penamaan wilayah itu. Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Kelurahan (LPMK) Gedong, Ahmad Suharsono, 72, menjelaskan nama Gedong diberikan oleh Mbah Demang.

Mbah Demang merupakan bekel yang kedudukannya di Harjosari dan membawahi Kelurahan Gedong. "Dulu namanya Gudang. Menurut sejarah, di sini dulu basis orang nakal, jadi dinamakan Gudang. Artinya gudang orang nakal. Terus diubah oleh Mbah Demang, sekarang namanya Gedong, berasal dari kata gudang,” ujarnya kapada Solopos.com saat ditemui di rumahnya, Jumat (8/2/2019).

Dia menerangkan dahulu kala ada dua orang nakal yang kondang di seluruh wilayah Karanganyar. Mereka orang sakti dan punya indra ke enam. Aparat zaman dulu kewalahan menghadapi mereka.

Bahkah ketemu dengan kedua orang tersebut saja aparat tidak berani. Aparat meminta bantuan Mbah Demang.

“Semua orang menurut dengan Mbah Demang. Mungkin Mbah Demang tahu kelemahan mereka berdua,” ujar Darsono kepada Solopos.com.

Lurah Gedong, Mariyo, mengatakan Gedong terdiri dari 19 dusun. Salah satunya dusun Pelet.

Suharsono, yang juga Ketua RW 006 Pelet, menjelaskan nama Pelet dianggap negatif oleh masyarakat. Dulu Pelet ingin dibuat kerajaan, sudah dibuatkan lumpang dan arca.

“Saya pernah melihat semua [lumpang dan arca]. Arcanya musnah tidak tahu ke mana. Dulu arca tidak mau dibawa ke rumah. Enggak maunya mrimpeni yang ngopeni. Minta ditaruh di bawah pohon sawo, pohonnya kecil enggak bisa berkembang,” ujarnya kepada Solopos.com.

Ia mengatakan saat ini lumpangnya masih ada. Benda tersebut masih ada di Banaran. Ia menjelaskan lumpang tersebut masih keramat.

“Nama Pelet, setelah akan dibuat kerajaan, baru mendapatkan sak pelet itu kemanungsan sehingga kerajaan tidak jadi dibuat. Ceritanya seperti itu, artinya saya tidak tahu pelet itu apa,” katanya kepada Solopos.com.

Harsono menjabarkan seiring berkembangnya zaman, anak dan cucu moyang Gedong sudah sadar agama. Bahkan, di Pelet menjadi pusat agama Islam di wilayah tersebut.

“Di sini ada TPA untuk usia 45 tahun hingga 70 tahun. Anggota TPA tersebut sebanyak 22 orang. Sebantar lagi akan didirikan pondok pesantren. Bahkan di sini sudah ada makam untuk muslim namanya Makam Slamet Riyadi. Tanah yang dipakai merupakan wakaf dari penduduk setempat,” tuturnya kepada Solopos.com.