Kisah Unik Bangjo Belakang UNS Solo: Merah Berhenti Malah Dimaki

Pengendara sepeda motor tidak memakai helm dan menerobos alat pemberi isyarat lalu lintas (APILL) saat masih berwarna merah di perempatan Jl. Ki Hajar Dewantara, Ngoresan, Jebres, Solo, Jumat (15/2 - 2019). (Solopos/Nicolous Irawan)
18 Februari 2019 08:00 WIB Ginanjar Saputra Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Isyarat pada lampu lalu lintas sudah sewajarnya ditaati para pengguna jalan. Jika warna merah menyala, maka pengguna jalan wajib berhenti hingga warna hijau pada lampu lalu lintas menyala.

Meski begitu, tak semua pengguna jalan petuh terhadap dengan isyarat pada lampu lalu lintas. Di di simpang empat Ngoresan, Jebres, sebelah utara pintu utara Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo, Jawa Tengah (Jateng), justru ada kisah unik pelanggaran peraturan lalu lintas yang seakan-akan sudah menjadi tradisi atau kebiasaan yang lazim.

Berdasarkan pantauan Solopos.com beberapa waktu lalu, pengguna jalan bahkan tak memedulikan lampu lintas di persimpangan tersebut. Tampaknya, lampu lalu lintas atau bangjo di belakang UNS Solo itu sudah benar-benar tak dianggap keberadaanya oleh pengguna jalan.

Bahkan, melalui kolom komentar di halaman Facebook Solopos.com, warganet menjelaskan pengguna jalan yang berhenti saat bangjo belakang UNS Solo itu berwarna merah justru akan dimaki-maki pengguna jalan lainnya.

"Goro" nang kunu aku di pisui wong. Peh lampu merah aku mandek. Dan akhrnya melu nrabas [Gara-gara di situ saya dimaki-maki orang. Karena lampu merah saya berhenti. Akhirnya ikutan menerobos]," ungkap pengguna akun Facebook Arief Al Ayubi.

"Kalau taat aturan di bangjo itu malah diklakson dan bisa2 kelakon ditabrak. Padahal lingkungan di situ didominasi mahasiswa karena banyak yang ngekost di belakang kampus," tulis pengguna akun Facebook Yuni Sadi.

Tak pelak kisah unik mengenai pelanggaran peraturan lalu lintas di dekat kampus UNS Solo itu memunculkan bergam kelakar dari warganet. "Judule Bangjo yang diabaikan, abang ijo jalan terus. Lampu abang mandek malah diwedus-weduske uwong ogh piye [Lampu merah berhenti malah dimaki orang]," tulis pengguna akun Facebook Mipho Syoxta.

"Bangjo yang cuma dianggap sebagai pajangan hiasan pinggir jalan," timpal pengguna akun Facebook Niken Siswanto.

"Bangjone raa duwe harga diri di mata pengendara," tandas pengguna akun Facebook Taufik Rasmanto.

Diberitakan Solopos.com sebelumnya, Simpang Ngoresan memang belum dipasangi kamera pengawas hingga kini. Dengan begitu, petugas masih belum bisa menerapkan sistem e-tilang di kawasan tersebut.