Ada 3 Pendapat soal Jenis Pohon Sala, Mana yang Benar?

Warga berebut jenang yang diletakkan di replika Tugu Jam Pasar Gede saat acara Semarak Jenang Sala 2019 di Plaza Sriwedari, Solo, Minggu (17/2). - Nicolous Irawan
18 Februari 2019 08:15 WIB Alifia Nur Maftukha Yuliana Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Kota Solo merayakan HUT ke-274, Minggu (17/2). Generasi milenial, bahkan warga Solo tak semuanya memahami asal nama . Bermula dari Desa Sala, hingga kini menjelma menjadi sebuah kota yang berkembang. Namun, ada sejumlah referensi penamaan Kota Solo saat ini berawal dari penamaan yang berhubungan dengan pohon sala.

Pada 2011, Pemkot Solo menanam 18 batang pohon sala. Pohon yang diyakini sebagai awal mula penamaan Solo tersebut ditanam di beberapa tempat strategis, seperti rumah dinas Wali Kota atau Loji Gandrung, rumah dinas Wakil Wali Kota, dan Kampus Universitas Sebelas Maret (UNS) Solo di Kentingan. Namun, sampai sekarang, masih ada perbedaan pendapat mengenai spesies yang disebut sebagai pohon sala yang sebenarnya.

Setidaknya, ada tiga jenis tanaman yang disebut sebagai pohon sala, yaitu Couroupita guianensis, Shorea robusta, dan Pinus mercusii.  Couroupita guianensis sering disebut pohon canon ball karena buahnya berbentuk bulat, keras dan besar, mirip dengan peluru meriam.

Seorang budayawan asal Solo yang kini tinggal di Jakarta, Hendramasto, menyatakan untuk menentukan spesies mana yang betul-betul pohon sala, tentu mesti dilihat konteks zamannya. Faktanya, Couropita disebut sebagai pohon sala di kalangan umat Buddha di Asia Tenggara. Pernyataan itu bisa dianggap benar bila memang nama Sala muncul di masyarakat di Solo pada zaman dahulu didominasi budaya agama Buddha. Pohon sala hingga kini masih dianggap suci oleh umat Buddha dan dijadikan pelindung kuil di India. Pohon itu bukan canon ball.

Di Aceh, pohon sala adalah pinus dengan nama latin Pinus mercusii. Sementara di kalangan penganut Buddha di Asia Tenggara, sala adalah Couroupita dan di kalangan umat Hindu-Buddha di India, pohon sala adalah Shorea robusta.

Hendromasto menyatakan Shorea robusta adalah pohon sala yang menjadi asal-muasal nama Kota Solo.  “Shorea memiliki bunga berwarna putih dan memiliki ciri biologis yang sama dengan pohon sala di Sitihinggil,” ujar dia melalui pesan Whatsapp, Sabtu (16/2).

Kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, K.G.P.H. Puger, menjelaskan peta lama Jawa tidak mengenal Bengawan Sala, namun dikenal sebagai Bengawan Semanggi. Patut diduga, nama Bengawan Semanggi berubah menjadi Bengawan Sala setelah keraton dipindahkan dari Kartasura ke Desa Sala, kemudian nama sungai ikut berubah menjadi Bengawan Solo.

Penelusuran asal usul nama Sala setidaknya muncul kali pertama pada 1960 dalam buku Nawawindu Radyapustaka. Dalam buku tersebut, G.P.H. Adiwijaya menjelaskan nama Sala berasal dari sebuah tanaman. Pemimpin Museum Radya Pustaka ini menukil kisah dalam Babad Sengkala karya pujangga Yogyakarta atas perintah Sri Sultan Hamengku Buwono I.

Pada Serat Mijil di halaman 72 Babad Sengkala dikisahkan Pangeran Mangkubumi yang kemudian bergelar Hamengku Buwono I singgah di Baturono setelah menakhlukkan pemberontak Adipati Martapura di Sukowati.
Sultan pertama Ngayogyakarta Hadiningrat tersebut oleh Babad Tanah Jawi tulisan Carik Braja disebut sebagai salah satu tokoh penting dalam pembangunan Surakarta. Di Baturono, Pangeran Mangkubumi melihat para pekerja menebang kayu sala.

Lalu nama sala berubah menjadi Solo diperkirakan karena orang Belanda saat itu kesulitan melafalkan sala, lebih mudah menyebut Solo.

Di belakang Pagelaran Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat terdapat pohon yang bukan Pinus merkusii dan disebut sebagai pohon sala. Kerindangan daun dan batangnya yang tegak berdiri memayungi bekas pusara Ki Gede Sala. Konon, pohon sala di Sitihinggil ini memiliki bunga berwarna putih. Sayang, pohon tersebut kini tak lagi berbunga.
Lalu, mana pohon sala yang sesungguhnya? Couroupita guianensis dengan bunga merah menyala mirip jengger naga, bunga Shorea robusta berwarna putih, atau bunga Pinus merkusii Jungh et de vriese berwarna cokelat.

Puger yang memiliki nama kecil G.R.M. Suryobandono ini menyatakan dalam sebuah serat dinyatakan nama Solo berasal dari tumbuhan yang memiliki ciri-ciri kadidine wit pinus. Hal ini menegaskan pohon sala bukanlah Pinus merkusii karena disebutkan sebagai tanaman yang menyerupai pinus.  Selain berdahan rindang, pohon sala di Sitihinggil ini memiliki buah berwarna cokelat seukuran buah sawo. Buah pohon sala ini mirip dengan tekstur otak manusia. Ciri fisik flora ini sama persis dengan spesies Couroupita guianensis. Demikian pula pohon sala yang tumbuh di halaman Loji Gandrung yang ternyata merupakan anak dari pohon yang berada di Sitihinggil.

Pihak keraton sangat mendukung upaya Pemerintah Kota Solo kembali menghijaukan kota dengan menanam pohon sala. Selain rindang, pohon bersejarah ini tentunya terus lestari dan tidak punah. Bahkan, Puger yang memindahkan bibit-bibit pohon sala di Sitihinggil yang kemudian diambil oleh warga dan beberapa di antaranya ditanam di Loji Gandrung dan Kampus UNS. Tujuannya masyarakat mengenal pohon sala dan terus melestarikannya hingga Solo tak kehilangan asal-muasal sejarahnya.