Molor 3,5 Jam, Begini Pementasan Opera Kolosal HUT Kota Solo

Pertunjukan opera kolosal memperingati Hari Jadi ke-274 Kota Solo di Balai Kota Solo, Minggu (17/2 - 2019). (Solopos/Mariyana Ricky P.D.)
18 Februari 2019 12:35 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com SOLO -- Hujan deras yang mengguyur wilayah Solo dan sekitarnya membuat pementasan Opera Kolosal Adeging Kutha Sala di pelataran Balai Kota Solo, Minggu (17/2/2019) malam tertunda.

Acara yang sedianya dimulai pukul 18.30 WIB itu molor hingga pukul 22.00 WIB. Agenda yang digelar larut malam tersebut tetap berlangsung dengan terlebih dahulu menampilkan pertunjukan gamelan dari lima kecamatan.

Masyarakat yang semula berteduh di sekitaran lokasi kemudian mengisi kursi-kursi. Opera bertajuk Sala Gumregah diawali umbul donga (memanjatkan doa). Intro rangkaian tari kolosal menampilkan bagaimana Ki Gede Sala ngudarasa (menyampaikan rasa) yang diikuti kemunculan Nyi Roro Kidul yang menyebut Desa Sala bakal menjadi kutha praja (kota pemerintahan).

Paduan pencahayaan, asap, dan set asli Pendapi Gede mendukung kisah pendirian Kota Solo. Gunungan lanang (pria) dan wadon (wanita) yang berhias lampu petromak mengapit bagian depan pendapa.

Seperti tahun lalu, adegan selanjutnya mengisahkan perpindahan Keraton Kartasura ke Surakarta saat kepemimpinan Raja Paku Buwono (PB) II. Adegan demi adegan spektakuler dengan koreografi menawan terus tersaji.

Pertunjukan kemudian dirangkai dengan dialog yang sesekali mengundang gelak tawa penonton. Kondisi rerumputan plasa Balai Kota yang basah selepas diguyur hujan membuat beberapa penari sempat terpeleset.

Kendati begitu, mereka tetap menunjukkan penampilan terbaik. Seusai adegan pertama yang menampilkan suasana Desa Sala yang gemah ripah loh jenawi diselingi pidato kebudayaan Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo.

Dalam pidato tersebut, Rudy, sapaan akrabnya, mengapresiasi kesediaan 250-an penari dan para pemain musik yang rela menunggu hujan reda untuk tampil. Didampingi Wakil Wali Kota, Achmad Purnomo, dia kembali mengingatkan lima budaya yakni gotong royong, menjaga, merawat, memiliki, dan mengamankan Kota Solo.

“Salah satunya lima budaya itu berhasil diterapkan pada kesenian dengan mementaskan opera kolosal,” kata dia.

Setelah Rudy menutup pidato, adegan suasana gemah ripah itu diikuti gotong royong untuk membangun kembali Keraton. Sayangnya, betapa pun warga Desa Sala berusaha membangun, mereka gagal karena tanah rawa desanya.

Mereka panik sampai akhirnya datang penggawa kerajaan yang mengajak Ki Gede Sala berdialog. Ki Gede Sala kemudian bersemedi hingga rakyat berhasil membangun keraton.

Setelah Keraton berhasil didirikan, PB II kemudian mengubah nama Desa Sala menjadi Surakarta Hadiningrat yang simbolnya diwujudkan dalam Tari Bedaya. Setelah tari sarat makna itu dipertunjukkan, penampilan berikutnya adalah Tari Gumregah-Solo Spirit of Java yang bermakna tentang Kota Solo di masa sekarang, sekaligus memperingati tiga tahun kepemimpinan Wali Kota Rudy dan Wakil Wali Kota Achmad Purnomo.

Rangkaian opera kolosal pada peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-274 Kota Solo itu disutradarai Agung Kusumo, dengan penulis naskah S.T. Wiyono, koreografer Anggono Kusumo dan Dorothea Quin.

Agung kepada wartawan belum lama ini menyebut perbedaan opera tahun ini dengan tahun lalu adalah konsep artistik yang menonjolkan bentuk arsitektur dan kemegahan Pendapa Balai Kota yang kini dibuat terbuka untuk masyarakat.

Selain itu, penampilan di pelataran lebih memudahkan masyarakat untuk menyaksikan dibanding saat disajikan di ruas jalan.