Bengawan Solo Travel Mart 2019, Buyer Berharap Ada Hal Baru

Peserta BTM 2019 berfoto memakai pakaian tradisional di Ndalem Kopi, Gondangrejo, Karanganyar, Minggu (17/2/2019). (Solopos - Bayu Jatmiko Adi)
18 Februari 2019 15:15 WIB Bayu Jatmiko Adi Solo Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Event Bengawan Solo Travel Mart (BTM) 2019 digelar mulai Minggu (17/2/2019). Beberapa destinasi akan dikunjungi untuk digali potensinya.

Para buyer yang terlibat pun berharap Solo memiliki sesuatu yang baru untuk bisa dijual. Pada hari pertama pelaksanaan BTM 2019, sekitar 70 buyer dari Makassar, Bali, Jakarta, Bogor, Jogja, Flores, Bojonegoro, Malang, Bandung, Semarang, Surabaya, dan Lombok, diajak mengunjungi sejumlah destinasi wisata di Solo dan sekitarnya.

Selain menghadiri Festival Jenang di Solo, mereka juga diajak mengunjungi Museum Purba Sangiran dan Padepokan Keris Brojobuwono di Gondangrejo, Karanganyar. Beberapa buyer ada yang telah mengenal Solo dan sering membawa tamu ke Solo.

Namun ada juga yang ingin memanfaatkan BTM untuk lebih mengenal Solo. Salah satu buyer dari Malang, Toni, mengaku sudah beberapa kali membawa tamu ke Solo.

Ada beberapa destinasi di Solo yang menjadi kunjungan wajib, di antaranya Museum Sangiran, Museum Radyapustaka, dan Mangkunegaran. Selain itu ada dua destinasi yang menurutnya tidak bisa ditemui di tempat lain, yaitu Pasar Klewer dan Sepur Kluthuk Jaladara.

Keikutsertaannya dalam kegiatan BTM tersebut ingin dia manfaatkan untuk update informasi dan kondisi wisata di Solo dan sekitarnya. "Pada kegiatan ini ada satu tempat yang sangat ingin saya datangi, yaitu tempat pembuatan keris. Saya kira ini menarik dan saya harus tahu tempat itu," kata Direktur Surga Tour Malang tersebut saat ditemui Solopos.com di Ndalem Kopi, Gondangrejo, Karanganyar, Minggu.

Menurutnya, sebagai Kota Budaya, Solo memiliki potensi besar untuk selalu menarik dikunjungi. "Tinggal bagaimana pelaku wisata dan pemerintah di Solo dalam melakukan inovasi. Solo khasnya adalah tradisi dan kuliner. Ketika ada sesuatu yang baru, akan membuat orang penasaran untuk datang," lanjut dia.

Pada kegiatan BTM ini dia berharap bisa bertemu para seller di Solo untuk mendapatkan informasi. "Ingin tahu juga apakah ada hal yang baru?" kata dia.

Menurutnya saat ini di masing-masing daerah di Indonesia melakukan pembaharuan untuk pertumbuhan pariwisata. Jika tidak ada pembaharuan, menurutnya cukup sulit untuk menawarkan ke konsumen.

Buyer lain dari Makassar mengatakan perlu mengenal Solo lebih dalam untuk bisa mengetahui potensi wisata di Solo dan sekitarnya. "Saya kira saya harus melihat dulu," kata Direktur Ogikaindo Tour Makasar, Memi.

Dia berharap bisa menemukan hal menarik dan berbeda di Solo agar bisa menarik tamu datang ke Solo. Ketua BTM 2019, Wahyu Adi Wicaksono, mengatakan tujuan BTM adalah mengenalkan Solo kepada travel agent dari luar Solo. "Harapannya bisa mendatangkan lebih banyak tamu dari luar Solo," terang dia.

Dia menceritakan dari pelaksanaan BTM sebelumnya, ada dampak yang bisa dirasakan. "Di tempat saya [Mokaya Tour] mendapat order. Ada travel dari luar Solo yang butuh lokal agent untuk membantu melayani tamu yang datang ke Solo. Mereka tahu kami juga dari BTM. Sempat membawa beberapa rombongan ke Karanganyar. Itu baru di tempat saya, mungkin juga ada di travel agent lain atau justru agent dari luar yang langsung membawa tamunya ke Solo," kata dia.

Ketua Association of the Indonesian Tours and Travel Agencies (Asita) Solo, Pri Siswanto, mengatakan dalam BTM ada dua konsep yang diangkat. Selain Business to Business (B2B) juga digelar familiarization trip (famtrip).

Para peserta BTM diajak langsung mengunjungi sejumlah destinasi di Solo. Diupayakan setiap tahunnya selalu ada yang baru untuk tempat-tempat yang dikunjungi tersebut.

"Harapannya jika langsung datang bisa lebih mengenal dibandingkan hanya mengirimkan penawaran," kata dia.