Homestay di Selo Boyolali Full di Akhir Pekan Meski Ada Guguran Lava Merapi

Guguran lava pijar keluar dari Gunung Merapi terlihat dari Deles, Klaten, Rabu (30/1 - 2019) dini hari. (Solopos/Burhan Aris Nugraha)
18 Februari 2019 19:05 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI — Kunjungan wisatawan lokal Indonesia ke homestay di Desa Samiran, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah, tidak terpengaruh meski ada aktivitas guguran lava Gunung Merapi.

Sejumlah pemilik homestay di Selo Boyolali mengungkapkan kunjungan wisatawan stabil dan paling banyak pada Sabtu dan Minggu atau hari libur lainnya.

Sarjono, 60, pemilik homestay Amanda mengatakan, pengunjung tetap merasa aman karena jarak puncak Gunung Merapi dengan Samiran cukup jauh sekitar 4-5 km.

“Mereka tetap merasa aman karena di sini cukup jauh dari puncak Merapi sehingga kalau ada apa-apa mereka tidak cepat kena imbasnya,” ujar Sarjono saat berbincang dengan solopos.com di Samiran, pekan lalu.

Selain itu, lanjutnya, keindahan Selo menjadi daya tarik mereka untuk tetap berkunjung di tengah aktivitas Gunung Merapi.

“Di sini mereka tidak hanya bermalam di tengah hawa sejuk atau melihat pemandangan lereng Gunung Merbabu dan Merapi, tetapi juga karena banyak pilihan kegiatan seperti melihat perkebunan, melihat peternakan, melihat UMKM [usaha mikro kecil dan menengah], dan berinteraksi dengan penduduk. Ini yang menjadi daya tarik wisatawan tetap datang ke Samiran,” imbuh Sarjono yang sudah mengelola homestay selama 16 tahun ini.

Pemilik homestay lainnya, Sukirman, 50, mengatakan hal senada dengan Sarjono.

“[Aktivitas guguran lava Gunung Merapi] Tidak ada pengaruhnya terhadap jumlah kunjungan wisatawan. Pada hari Sabtu dan Minggu atau hari libur lainnya biasanya full,” ujar pemilik homestay Putri ini tanpa memerinci angka kunjungan rata-rata per bulan.

Sementara itu, aktivitas Gunung Merapi justru berpengaruh terhadap kunjungan wisatawan mancanegara.

Ketua kelompok sadar wisata (pokdarwis) Desa Samiran, Dayang Nevia Afriansari mengatakan, hampir semuanya pengguna homestay Samiran asal mancanegara adalah pendaki Gunung Merapi dan Merbabu. Sehingga ketika ada larangan pendakian Gunung Merapi sejak tahun lalu, otomatis pendaki mancanegara batal mendaki atau datang ke Selo.

Dia mengatakan dalam setahum rata-rata pengunjung homestay di Samiran mencapai 5.000 orang, 20 persen atau 1.000 di antaranya adalah pengunjung asal mancanegara.

“Untuk wisatawan asing rata-rata 1.000 orang per tahun. Tapi sejak Gunung Merapi ditutup untuk pendakian umum, mereka ganti naik ke Merbabu tapi jumlahnya juga sedikit. Jadi, saya kira tahun ini kunjungan wisatawan mancanegara untuk mencapai angka 1.000 sepertinya susah,” kata Dayang.

Saat ini, di Samiran terdapat 50 homestay di bawah binaan pokdarwis dengan total 150 kamar.