Masjid Jami MUI Solo Senilai Rp2,6 Miliar Dibangun Selama 8 Tahun, Begini Alasannya

Masjid Jami MUI Solo yang berada di kompleks kantor MUI Solo di Kelurahan Mojo, Pasar Kliwon. Foto diambil Sabtu (16/2 - 2019). (Solopos/Ahmad Mufid Aryono)
19 Februari 2019 07:22 WIB Ahmad Mufid Aryono Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Panitia pembangunan Masjid Jami Majelis Ulama Indonesia (MUI) Solo harus mempersiapkan diri membangun masjid sekitar delapan tahun. Pembangunan itu dimulai dari penyerahan surat keputusan (SK) Pengurus MUI Kota Solo pada 2010 kepada panitia pembangunan dan dinyatakan selesai pembangunan pada 2018 akhir.

Ketua panitia pembangunan Yusuf Hidayat mengatakan setelah menerima SK Pengurus MUI, pihaknya bersama tim menyusun kepanitiaan dan perencanaan pembangunan. “Kami harus menyiapkan sekitar satu tahun. Baru pada 2011 panitia pembangunan mulai membangun. Setelah selama setahun mempersiapkan seluruh keperluan pembangunan mulai dari perencanaan, pendanaan, bentuk bangunan, maupun yang lain,” ujar dia kepada wartawan seusai penyerahan pembangunan Masjid Jami MUI di Gedung MUI Kota Solo di kawasan Kelurahan Mojo, Sabtu (16/2/2019).

Yusuf menambahkan dalam proses perencanaan pembangunan itu, juga sempat terkendala dengan berubahnya desain masjid. Awalnya, jelas Yusuf, masjid akan dibangun dengan beberapa tiang di ruang utama masjid. Namun, masukan dari berbagai pihak, ada permintaan agar menghilangkan tiang di ruang utama masjid. Hal ini agar tidak ada penghalang saat melaksanakan salat di ruang utama.

“Setelah berdiskusi dengan beberapa tim perencanaan dari UNS Solo akhirnya bisa ketemu desain. Kami menggunakan paku bumi untuk fondasi bangunan  masjid,” imbuh dia.

Menurut Yusuf, sebetulnya proses pembangunan itu bisa selesai sebelum delapan tahun. Namun, oleh pihak MUI, panitia pembangunan diminta terus untuk menyelesaikan seluruh fasilitas yang ada di masjid, termasuk ruang wudu, dan beberapa fasilitas lainnya. “Kami diminta terus menyelesaikan hingga bisa dikatakan sempurna dan digunakan warga setempat. Bangunan masjid itu bisa menampung jemaah hingga sekitar 1.000 orang,”jelas dia.

Mantan Wakil Ketua DPRD Solo ini menyatakan dana yang terkumpul untuk pembangunan masjid mencapai sekitar Rp2,66 miliar yang berasal dari sejumlah donatur dan anggaran Pemkot Solo yang mencapai sekitar Rp500 juta. Selain itu, sejumlah donatur juga menyumbang beberapa material untuk kelengkapan masjid.

Ketua MUI Solo, Subari, menyatakan dengan selesainya  pembangunan masjid itu bisa memberikan mafaat bagi semua pihak. Di kawasan masjid yang masih satu kompleks dengan kantor MUI Solo itu berdiri sejumlah fasilitas umum seperti pasar ayam, pasar klitikan, RSUD Semangi, Kantor Kelurahan Mojo, Koramil Pasar Kliwon, dan SMPN 11 Solo.

“Semua pihak bisa memanfaatkan masjid itu untuk kegiatan keagamaan. Kami terbuka,” papar dia.

Subari mengingat puluhan tahun lalu kawasan kantor MUI Solo ini menjadi kawasan hitam Kota Solo, karena adanya resos Silir. Setelah dilakukan penutupan kawasan resos Silir oleh Pemkot, masyarakat di sekitar lokasi resos juga berubah. Keberadaan masjid ini, imbuh Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Solo ini, bisa memberikan manfaat bagi semua warga yang melintas.