Sekolah Islam di Solo dan Kota Lain Tak Sebarkan Radikalisme

Narasumber memberikan materi pada seminar Hasil Penelitian Suluh Keadaban Buku Ajar dan Guru Pendidikan Agama Islam MA di Indonesia di Kampus UMS, Senin (18/2/2019). - Iskandar
19 Februari 2019 06:40 WIB Iskandar Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO-Direktur Pusat Studi Budaya dan Perubahan Sosial (PSBPS) Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Yayah Khisbiyah, mengatakan sebagian besar sekolah Islam tidak menyebarkan radikalisme dan ekstremisme. Bahkan sekolah-sekolah Islam dinilai toleran, progresif, dan moderat.

“Tidak seperti anggapan umumnya yang menyatakan sekolah-sekolah Islam atau pendidikan agama Islam itu menyebarkan radikalisme, ekstremisme. Ternyata penelitian kami menemukan bahwa radikalisme atau konservatisme cuma sedikit di tingkat madrasah aliyah [MA],” ujar dia kepada wartawan dalam Seminar Hasil Penelitian Suluh Keadaban Buku Ajar dan Guru Pendidikan Agama Islam MA di Indonesia di Gedung Siti Walidah Kampus UMS, Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, Senin (18/2/2019) sore.

Penelitian itu hasil kerja sama PSBPS UMS, CONVEY-UNDP-PPIM UIN Jakarta.

Yang jadi lokasi penelitian adalah Solo, Jogja, Cirebon, Jakarta, dan Manado. Lama penelitian tiga bulan.

Kendati demikian, dia mengakui ada sedikit guru yang berpotensi radikal. Walau sedikit, mereka memiliki pengaruh sifnifikan terhadap munculnya benih-benih ekstremitas, lebih khusus lagi intoleransi kepada umat beragama lain.

Guru yang jumlahnya sedikit itu mengajar akidah atau sistem keyakinan. Pelajar  dididik untuk tidak berteman dengan pemeluk agama lain, tak menghargai orang yang berbeda.

Sikap itu akan berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari yang intoleran. Dari penelitian ini, pihaknya merekomendasikan agar muatan atau materi kandungan buku ajar diperbaiki. Materi yang mengandung benih-benih intoleransi dan ekstremitas dihilangkan. Sebaliknya,  materi keagamaan yang moderat progresif  ditambah.

Pihaknya juga merekomendasikan para guru mendapat penguatan kompetensi, penguatan kemampuan, hingga perluasan wawasan. Wawasan di sini tidak hanya wawasan agama Islam, tapi juga wawasan kebangsaan.

Hal ini penting agar mereka berpartisipasi menjaga keutuhan dan kemajuan bangsa. Selain itu, guru perlu peningkatan wawasan kemanusiaan universal. Alasannya, masyarakat hidup dalam lingkungan global yang memungkinkan interaksi antaragama, bangsa dan peradaban. Kalau para murid tak dibekali nilai-nilai untuk menghargai keragaman, perbedaan kekayaan dari perbedaan,  mereka akan gamang dalam menghadapi era global 4.0.

Secara umum, penelitian ini menyebutkan sangkaan atau tuduhan agama Islam menyebarkan radikalisme tak terbukti. Ini berdasar penelitian di MA, khususnya dengan melihat isi buku dan guru-gurunya. Guru dan buku di MA justru moderat progresif, meski ada potensi menyebabkan radikalisme atau ekstremitas. Potensi yang  kecil itu harus dimodifikasi.

“Tapi secara keseluruhan moderat bahkan sebagian progresif, yaitu mengajarkan orang harus menolong bekerja sama walau berbeda agama. Progresif di sini dalam arti positif, kalau yang negatif biasanya liberal sehingga pandangannya maju berkemajuan. Pandangannya terbuka dan berkemajuan untuk menerima pengaruh-pengaruh positif.”

Menyinggung faktor yang memicu potensi radikal meski hanya sedikit,  dia menyinggung akar teologis. Memang ada doktrin, dogma, yang ditanamkan sejak kecil  Doktrin dan dogma itu bersifat tertutup. Doktrin itu tak memberi ruang diskusi karena itu dianggap sebagai sesuatu yang harus diterima. Padahal, kata Yayah, perlu dikenalkan pemikiran lain dalam Islam.