Karyawan Tunda Buka Segel RSIS Sukoharjo, Ini Alasannya

Pengurus Yarsis berdialog dengan Ketua DPRD Sukoharjo Nurjayanto, Senin (18/2/2019). (Solopos - Indah Septiyaning W.)
19 Februari 2019 14:40 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Karyawan Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) di Pabelan, Kartasura, Sukoharjo, menunda rencana pembukaan segel rumah sakit tersebut. Sebelumnya, karyawan berencana datang dan membuka segel RSIS, Selasa (19/2/2019) ini.

Mereka beralasan menunggu momentum yang tepat untuk membuka segel pintu gerbang rumah sakit itu. Mereka ingin melihat kondisi riil rumah sakit setelah ditutup pada tahun lalu.

Wakil Sekretaris Serikat Pekerja RSIS, Suyamto, tak menampik para karyawan berencana masuk ke area rumah sakit, Selasa ini. Mereka ingin melihat kondisi rumah sakit termasuk fasilitas dan peralatan medis.

“Kami bakal membahas rencana itu [masuk ke area rumah sakit] bersama teman-teman. Masih kami kaji mendalam untuk melihat kondisi riil area rumah sakit,” kata dia saat berbincang dengan Solopos.com, Selasa.

Nasib ratusan karyawan RSIS terkatung-katung selama lebih dari setahun. Para karyawan dirumahkan mulai pertengahan 2018. Keputusan manajemen rumah sakit itu sempat diprotes para karyawan lantaran dinilai sepihak.

Perwakilan karyawan tak pernah dilibatkan dalam diskusi pengambilan keputusan itu. Kala itu, perwakilan karyawan ingin bertemu manajemen rumah sakit untuk membahas masalah itu namun tak membuahkan hasil.

“Kami bakal memberi kabar teman-teman wartawan jika sudah ada kesepakatan serikat pekerja yang akan masuk ke rumah sakit. Saat ini, waktunya belum fix,” ujar dia.

Ratusan karyawan rumah sakit pernah melakukan mogok bekerja secara massal selama sebulan penuh pada 14 Juni-13 Juli 2018. Hal itu dilakukan lantaran tidak adanya kesepakatan dengan manajemen RSIS ihwal tuntutan karyawan meliputi pelunasan gaji, Tunjangan Hari Raya (THR), dan lainnya.

Sebagian karyawan memilih mengundurkan diri sebelum mogok bekerja secara massal. Mereka lantas melamar pekerjaan di sejumlah rumah sakit di wilayah Soloraya.

Namun, tak sedikit karyawan rumah sakit yang beralih pekerjaan membuka warung makan hingga mencari barang rongsokan. “Mereka terpaksa bekerja seadanya demi menafkahi keluarga. Ini yang perlu diperjuangkan, kejelasan nasib karyawan setelah dirumahkan,” papar dia.

Sebelumnya, Ketua Pengurus Yarsis, Zainal Mustaqim, mengungkapkan putusan Mahkamah Agung (MA) menyebutkan majelis hakim menolak permohonan kasasi Yayasan Waqaf RSIS (Ywarsis) dan pengelolaan rumah sakit diserahkan kepada Yarsis.

Pengadilan Negeri (PN) Sukoharjo diminta segera melakukan eksekusi. Zainal mengadukan masalah sengketa RSIS kepada anggota DPRD Sukoharjo pada Senin (18/2/2019). Selama ini, berbagai upaya sudah dilakukan agar eksekusi bisa segera dilakukan.