Jadi Anggota Bawaslu Wonogiri, Isnawanti Tertantang Dinamika Pemilu

Isnawanti Sholihah, Bawaslu Wonogiri. - Istimewa / Dok. Pribadi
19 Februari 2019 12:32 WIB Rudi Hartono Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI -  Berawal dari coba-coba, Isnawanti Sholihah justru menemukan hasrat untuk selalu terlibat dalam pengawasan pemilihan umum (pemilu). Perempuan asli Wonogiri yang lahir 42 tahun silam itu merasa tertantang dengan dinamika pengawasan pemilu di Kabupaten Sukses. Tak heran dia terus berkecimpung dalam Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu) yang sekarang bertransformasi menjadi Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu).

Kepada solopos.com, Senin (18/2/2019), dia menceritakan kali pertama menjadi anggota Panwaslu pada 2013 saat digelarnya Pemilihan Gubernur (Pilgub) Jawa Tengah. Setelah itu ibu satu anak tersebut menjadi anggota Panwaslu pada 2014 saat Pemilihan Anggota Legislatif (Pileg) dan Pemilihan Presiden (Pilpres), pada 2015 ketika digelar Pemilihan Bupati (Pelbup) Wonogiri (Ketua Panwaslu), dan 2018 saat lembaga berubah nama menjadi Bawaslu untuk masa jabatan hingga 2023 mendatang.

Menurut istri Muhamad Aris Setiawan, 45, itu, saat ada perekrutan anggota Panwaslu pada akhir 2012 dia hanya coba-coba mendaftar. Tak disangka, dia lolos seluruh tahapan seleksi. Sebelumnya, sejak 2001 dia menjadi pendamping masyarakat pada program pengentasan kemiskinan, pembangunan infrastruktur, dan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (pamsimas).

Kali pertama berkecimpung di dunia barunya, perempuan berjilbab yang akrab disapa Isna itu baru mengetahui bahwa masalah pengawasan pemilu sangat kompleks. Berbagai masalah yang dihadapinya, seperti banyaknya protes dari berbagai partai politik, dianggap tak bisa bekerja, dan sebagainya membuatnya sempat hampir menyerah. Seiring berjalannya waktu dia justru menikmati pekerjaan karena merasa tertantang.

“Tantangan pekerjaan di Panwaslu saat kali pertama menjadi anggota, luar biasa. Itu tidak membuat saya ciut nyali, justru membuat saya tertantang. Semakin lama saya tertarik sampai akhirnya seperti menemukan jiwa saya. Oleh karena itu pada perekrutan selanjutnya sampai pada perekrutan Bawaslu kemarin [2018] saya selalu mendaftar. Dan alhamdulillah diterima terus,” ucap warga Bulusari RT 001/RW 004, Bulusulur, Kecamatan Wonogiri itu.

Dia menilai tantangan terberat yang pernah dihadapinya, yakni saat menjadi Ketua Panwaslu 2015 dalam Pilbup. Ketika itu pihaknya dituding mengabaikan dugaan pelanggaran pemilu, yakni adanya sukarelawan yang memberi bahan pangan kepada warga. Panwaslu tak dapat berbuat banyak kala itu karena regulasi tak mengatur soal sukarelawan, sehingga sukarelawan itu tidak dapat ditindak. Masalah itu membuat dirinya dan rekan-rekannya dilaporkan ke Dewan Kehormatan Penyelenggara Pemilu (DKPP). Namun putusan DKPP menyatakan sikap Panwaslu benar dan nama baik mereka dipulihkan.