Mengenal Pabrik Minyak Kayu Putih Milik Petani Hutan di Kemusu Boyolali

Seorang petani yang tergabung dalam LMDH Wono Mulyo Desa Wonoharjo Kecamatan Kemusu, memanaskan alat yang akan digunakan untuk menyuling daun kayu putih menjadi minyak. (Solopos - Nadia Lutfiana Mawarni)
20 Februari 2019 06:00 WIB Nadia Lutfiana Mawarni Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI—Program Pengakuan dan Perlindungan Kemitraan Kehutanan (Kulin KK) menjadi salah satu bagian yang tidak dapat dipisahkan dalam sistem perhutanan sosial.

Dengan program Kulin KK ini pulalah, Pujiyono, 45, dan sejumlah petani lain yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) Wono Mulyo, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Boyolali, secara bertahap mengembangkan pabrik minyak kayu putih.

Penyulingan daun kayu putih menjadi minyak mulai dirintis LMDH Wono Mulyo sejak 2004 silam dengan mesin destilasi sederhana.

Sebanyak satu kuintal daun kayu putih yang dimasak dalam ketel mampu menghasilkan rendemen (perbandingan hasil) 0,7%. “Itu berarti dalam 1.000 kg atau 1 ton daun dapat menghasilkan rata-rata 7 kg minyak kayu putih,” ujar Pujiyono saat berbincang dengan Solopos.com, di sela-sela proses penyulingan di Dukuh Ngeboran, Desa Wonoharjo, Kecamatan Kemusu, Boyolali, Rabu (13/2/2019).

Pada tahun itu, total pabrik minyak kayu putih tersebut berhasil menyuling sekitar 60 ton daun kayu putih. Dengan perbandingan rendemen yang sama, maka dapat menghasilkan 42.000 kg minyak kayu putih.

Pujiyono kini bisa bernapas lega. Melalui Program Kulin KK, pabrik minyak kayu putih yang dikelola LMDH Wono Mulyo mendapatkan suntikan bantuan. Administrator Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Telawa, Cecep Hermawan, menyerahkan bantuan lewat Program Kemitraan dan Bina Lingkungan (PKBL) berupa alat destilasi minyak kayu putih senilai Rp201 juta.

Lewat program serupa, LMDH juga bisa menikmati program pinjaman lunak untuk pengembangan usaha senilai Rp105 juta.

Dana tersebut diwujudkan dalam bentuk bantuan satu unit rumah separator, satu unit separator, serta tiga unit kondensor. “Separator berfungsi untuk memisahkan minyak dari air pascapenyulingan, sementara kolam kondensor adalah kolam pendingin,” imbuh dia.

Dengan penambahan alat, Pujiyono optimistis tahun ini bisnis yang dikelolanya bersama teman-teman petani makin berkembang. Sebagai gambaran, sejak 2007 lalu pabrik minyak kayu putih kerap gonta-ganti ketel. Mulai dari yang berkapasitas tiga kuintal, lima kuintal, hingga kini terdapat tiga ketel dengan masing-masing berkapasitas satu ton.

Kemitraan

Sementara itu, data hasil produksi daun kayu putih pada 2018 mencapai 883.970 kg atau menghasilkan minyak sebanyak 6.254 ton. Seluruh prosesnya dikerjakan secara bersama-sama oleh Perum Perhutani dan LMDH dengan sistem kemitraan.

Perum Perhutani bertanggung jawab atas ketersediaan daun di hutan, pembudidayaan tanaman kayu putih, dan perawatan berkala. Sementara itu, LMDH memproses kayu putih dari daun yang sudah dipetik menjadi minyak lewat mesin destilasi.

Setelah dipangkas daun kayu putih diangkut ke mesin. Daun tidak diperbolehkan kering agar kandungan cineol tetap maksimal. Kemudian daun direbus pada ketel yang telah tersedia. Rebusan daun ditambah dengan air kira-kira sepertiga dari total volume ketel. Setelah direbus hingga lima jam minyak kayu putih dan air rebusan dipisahkan lewat separator, lalu didinginkan melalui kondensor.

Pujiyono menambahkan minyak kayu putih hasil penyulingan biasanya berwarna kuning jernih. “Tidak seperti yang sudah dalam kemasan menjadi kehijauan,” ujar dia. Minyak-minyak yang sudah selesai diproses itu kemudian dibawa ke Kesatuan Bisnis Mandiri (KBM) yang juga dikelola oleh Perum Perhutani.