Jukir Klaten Hobi Baca Alquran Akhirnya Bisa Umrah ke Mekkah

Sutarjo, 47, juru parkir di Jl. Pemuda Klaten membaca Alquran, Sabtu (16/2/2019). (Solopos - Ponco Suseno)
20 Februari 2019 21:15 WIB Ponco Suseno Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Masih ingat dengan Sutarjo, juru parkir (jukir) di Jl. Pemuda Klaten yang hobi membaca Alquran?

Pada Mei 2018 lalu Solopos.com pernah mengangkat kisah jukir inspiratif berusia 47 tahun itu. Siapa sangka, kini jukir yang setiap hari mengisi waktu luang di tengah menunggui sepeda motor di lokasi parkir salah satu toko di Jl. Pemuda Klaten dengan membaca Alquran itu tengah bersiap untuk berangkat umrah ke Mekkah.

Saat ditemui Solopos.com di lokasi parkir yang sama, akhir pekan lalu, Sutarjo tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Aktivitasnya tak banyak berubah.

Sambil menunggui sepeda motor pelanggan yang diparkir, Sutarjo duduk di kursi plastik warna merah. Alquran di tangannya sementara mulutnya komat kamit membaca ayat demi ayat kitab suci itu dengan suara lirih.

Saat ada pelanggan yang keluar toko dan hendak mengambil sepeda motornya, Sutarjo beranjak dari kursinya untuk membantu mengeluarkan sepeda motor dari barisan parkir dan mengarahkannya masuk ke jalan. Setelah selesai ia kembali ke kursi merah dan Alqurannya.

Sutarjo sudah beberapa tahun menjadi jukir di lokasi itu. Dia membaca Alquran di sela-sela waktu bekerjanya karena hal itu memberinya ketenangan batin.

Di samping itu, satu per satu impiannya dapat digapai. Sutarjo mensyukuri pekerjaannya sebagai juru parkir meski penghasilannya tak besar.

Sutarjo yang hanya tamatan Sekolah Dasar (SD) di Ngawi, Jatim, ini membulatkan tekad merantau ke Klaten pada 1990. Waktu itu, pria kelahiran 23 April 1972 ini bekerja sebagai penjaga toko kelontong di Klaten.

Pada 1995, Sutarjo menikahi Partinah, alumnus SMA asa; Gondang, Jogonalan, Klaten. Sejak berumah tangga, Sutarjo berhenti bekerja sebagai penjaga toko. Dia menjadi tukang becak di perkotaan Klaten pada 1996.

Sejak itulah, Sutarjo mulai rutin membaca Alquran. Dalam sehari, Sutarjo mampu membaca 2 juz Alquran dan bisa khatam dua kali dalam sebulan. Sejak tamat SD, Sutarjo sudah bisa membaca Alquran.

Sutarjo baru mulai menjadi jukir pada 2013. “Saya disuruh jadi jukir menggantikan Pak Harsono yang meninggal dunia pada 2013. Saat itu, becak saya jual Rp200.000. Saya fokus menjadi jukir di sini. Hasil yang saya peroleh saat ini Rp90.000-Rp100.000 per hari. Saya tetap dapat mengaji dua juz tiap hari,” katanya.

Senin (11/2/2019), Sutarjo didatangi seorang pemuda asal Klaten bernama Andre. Tanpa diduga, Andre menawari Sutarjo umrah ke Mekkah. Tak hanya Sutarjo, istrinya juga akan ikut ke Tanah Suci pada April 2019.

“Saya tak menyangka bisa umrah ke Mekkah. Saya selalu berdoa agar dapat umrah dan pergi berhaji. Ternyata doa saya untuk umrah dikabulkan. Saya bersyukur sekali. Nantinya, saya tetap ingin berhaji. Tapi tidak tahu kapan,” kata Sutarjo.

Sutarjo mengaku tak ada persiapan khusus untuk pergi umrah. Berbagai kelengkapan surat-surat sudah diurus Andre. “Di Mekkah nanti, saya ingin berdoa agar anak saya soleh, berbakti kepada orang tua, dan bermanfaat bagi yang lainnya. Saya juga mendoakan yang memberi hadiah umrah agar rezekinya lancar,” katanya.