Kurang Inovasi dan Cuaca Ekstrem, Kunjungan Wisatawan ke Wonogiri Berkurang

Pengunjung berjalan di jalan setapak di tempat wisata Watu Cenik, Sendang, Kecamatan Wonogiri, Kabupaten Wonogiri, belum lama ini. Tempat wisata itu dilengkapi wifi yang bisa diakses secara gratis dan wahana tempat foto berupa balon raksasa. - Rudi Hartono
20 Februari 2019 12:00 WIB Cahyadi Kurniawan Wonogiri Share :

Solopos.com, WONOGIRI—Kunjungan wisatawan ke objek wisata di Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, cenderung menurun dalam dua tahun terakhir. Minimnya inovasi dan faktor alam diduga menjadi penyebab.

Pemerintah Desa Sendang melalui badan usaha milik desa, Sendang Pinilih, mengelola tiga objek wisata. Tiga objek itu Watu Cenik, Puncak Joglo, dan Menara Pandang. Kunjungan wisatawan setiap bulan antara 5.000–6.000 orang. Jumlah itu meningkat saat momentum Tahun Baru dan libur Lebaran.

Namun, belakangan ini jumlah kunjungan wisatawan menurun. Ini kentara terasa saat perayaan Tahun Baru 2019 di Puncak Joglo. Jumlah kunjungan hanya 800 orang. Padahal, pada Tahun Baru 2018 ada 2.000 orang datang. “Kami perlu inovasi-inovasi agar BUM Desa tetap eksis,” beber Kepala Desa Sendang, Kecamatan Wonogiri, Sukamto Priyowiyoto, Senin (18/2/2019).

Penurunan jumlah kunjungan ini secara terperinci dapat dilihat di situs resmi Sendang Pinilih. Jumlah wisatawan secara year on year yakni Januari 2017 sebanyak 13.275 orang, Januari 2018 sebanyak 5.818 orang, dan Januari 2019 sebanyak 5.418 orang. Sedangkan, pada Februari 2017 ada 7.947 orang dan Februari 2018 ada 3.958 orang.

Kendati kunjungan menurun, pendapatan pada Januari 2019 mencapai Rp27 juta atau lebih tinggi ketimbang Januari 2018 yakni Rp23,2 juta. Secara proporsional, pendapatan Januari 2019 masih lebih baik ketimbang Januari 2017 sebesar Rp33,7 juta dari jumlah kunjungan 13.275 orang

Selain minimnya inovasi, faktor cuaca juga ditengarai menjadi penyebab wisatawan enggan datang. “Cuaca tidak menentu mendorong orang mempertimbangkan kembali untuk piknik ke Sendang. Apalagi ini wisata alam dan menjual pemandangan dari ketinggian,” kata jelas Sukamto.

Sejumlah inovasi sebenarnya telah dilakukan Sendang Pinilih. Salah satunya dengan membuka outlet pembayaran online. Melalui outlet tersebut pengunjung bisa membayar tagihan listrik, telepon, pajak, bahkan menarik uang. Ini salah satunya untuk memfasilitasi wisatawan yang datang, tapi lupa membawa uang tunai.

“Pada 2018, BUM Desa menyumbangkan ke pendapatan asli desa Rp30 juta. Tahun ini kami juga menganggarkan dukungan permodalan kepada BUM desa senilai Rp50 juta,” terang pria yang juga mantan Direktur Sendang Pinilih itu.