Jalan Tol Bantu Tekan Inflasi Soloraya, Ini Penjelasan BI Solo

Mobil pengguna jalan tol melintas di Gerbang Tol Colomadu di Ngasem, Colomadu, Karanganyar, Sabtu (9/6 - 2018). (Solopos/Iskandar)
21 Februari 2019 03:34 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLOJalan tol bisa menjadi solusi menekan angka inflasi pada 2019 dan mencapai target inflasi 3,5%±1%. Tol menjadi alternatif moda transportasi jarak jauh bagi masyarakat sehingga tidak terlalu bergantung pada pesawat. Selain itu, tol memperlancar distribusi komoditas pangan yang sering menyumbang inflasi.

“Untuk tiket pesawat downraising-nya ada jalan tol yang menyediakan alternatif moda transportasi bus melalui tol. Harga tiket kewenangannya ada di pusat, tapi kami akan bergerak melihat itu,” kata Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Solo, Bandoe Widiarto, ditemui Solopos.com seusai acara High Level Meeting Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) se-Soloraya dalam rangka Perumusan Program Strategis Pengendalian Inflasi 2019, di Gedung KPw BI Solo, Rabu (20/2/2019).

Banode optimistis inflasi di wilayah Soloraya pada tahun ini sesuai target. Sejumlah program unggulan telah disiapkan untuk mencapai target itu, yaitu fokus kepada tiga poin penyumbang inflasi, yakni harga komoditas pangan, kelompok administered price, dan core.

Komoditas pangan seperti bawang dan cabai masih bisa mendorong laju inflasi lantaran pengaruh cuaca. Pada kelompok administered price di antaranya pengaruh kenaikan tiket pesawat terbang. Sementara core, dipengaruhi kenaikan tarif di sejumlah rumah sakit di Solo sejak Desember.

Dia memprediksi terdapat gangguan pada volatile food. Kendati demikian, Soloraya bakal tertolong dengan keberadaan jalan tol yang memungkinkan komoditas pangan bergerak cepat dari Jawa Timur. Bandoe mengatakan tahun ini potensi kenaikan inflasi tetap ada, namun ada beberapa solusi untuk menekan inflasi, salah satunya dengan sinergi.

“Kata kuncinya ada pada sinergi. Kediri yang sukses mendapat TPID Award 2017 itu sinerginya bagus. Soloraya juga punya outcome bagus, hanya pada prosesnya yakni dokumentasi, risalah rapat, dan rekomendasi yang dinilai masih kurang bagus,” jelas dia.

Dalam pertemuan tersebut, BI KPw Solo menghadirkan pembicara Direktur Usaha dan Pengembangan Perumda Pasar Jaya, Anugrah Esa. Dalam paparannya, Esa menyampaikan sejumlah konsep untuk menekan inflasi, di antaranya pembuatan badan usaha milik daerah (BUMD) sektor pangan. Komoditas pangan yang tahan lama dikelola PT Food Station Tjipinang Jaya dengan produk seperti beras, telur, dan lainnya.

PD Dharma Jaya khusus untuk penjualan daging mulai sapi, ayam, kerbau, babi, dan lainnya. Selain itu, PD Pasar Jaya dengan komoditas pangan tidak tahan lama seperti bawang, sayur, buah, bumbu dapur, dan lainnya.
“Sudah kami rintis tiga tahun belakangan. Kinerja mereka terbukti menekan angka inflasi Jakarta yang lebih rendah dari nasional dua tahun ini. Sebelumnya, inflasi Jakarta itu gila-gilaan,” kata Anugrah Esa.