Sebelum Ditemukan Meninggal, Pasutri Boyolali Kerap Cekcok Hingga Gugat Cerai

Kapolres Boyolali AKBP Kusumo Wahyu Bintoro bersama Kapolsek Boyolali Kota AKP Purnomo mengamati situasi dalam rumah di RT 001/RW 008 Kampung Harjomulyo, Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan Boyolali Kota, Kamis (21/2/2019). (Solopos - Akhmad Ludiyanto)
21 Februari 2019 14:35 WIB Akhmad Ludiyanto Boyolali Share :

Solopos.com, BOYOLALI -- Peristiwa tragis meninggalnya Adek Hariyono, 47, dan Muntamah, 40, pasangan suami istri (pasutri) yang tinggal di RT 1/8 Kampung Harjomulyo, Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan Boyolali Kota, Kamis (21/2/2019), diduga dilatarbelakangi masalah keluarga.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Solopos.com, pasangan tersebut sudah memiliki dua anak berusia 7 tahun dan 2,5 tahun. Saat jasad pasutri itu ditemukan, kedua anaknya itu tidak berada di rumah melainkan di rumah saudaranya di wilayah Boyolali.

Rumah yang mereka tinggali itu merupakan rumah kakak kandung Muntamah, Margono, 50. Keduanya tinggal di rumah itu sejak sekitar 2 tahun lalu sedangkan Margono tinggal di rumahnya yang lain di Boyolali.

Margono, 50, mengakui sebelum meninggal keduanya punya masalah keluarga. “Ini [rumah lokasi kejadian] memang rumah saya. Mereka tinggal di sini sudah agak lama. Mereka memang sedang ada masalah,” ujarnya kepada wartawan di lokasi kejadian.

Namun Margono tidak mengungkapkan persoalan yang sedang mereka hadapi tersebut. Saat ditanya apakah keduanya sering cekcok belakangan ini, Margono juga enggan membeberkannya.

“Yang jelas mereka ada masalah. Kalau cekcok saya tidak tahu karena saya tinggal di rumah lain,” ujarnya sebelum pergi bersama polisi untuk dimintai keterangan.

Sementara itu, salah satu tetangga pasutri tersebut, Heru Basuki, 63, mengatakan hal senada dengan Margono. Menurut Heru, Muntamah sering curhat kepadanya mereka sedang kesulitan ekonomi.

“Saya kurang tahu pekerjaan Adek. Tapi yang saya tahu, dia [Adek] sering diminta orang nyopir mobil. Kalau Mun [Muntamah] berdagang pakaian di Pasar Mojosongo. Kalau pulang dia [Mun] buka showroom di rumahnya karena rumah itu juga jadi showroom [sepeda motor bekas Arjuna Motor]. Mun sering curhat ke saya dan istri saya,” kata Heru yang tinggal di seberang rumah tinggal korban.

Kepadanya, Mun bercerita dia sering cekcok dengan suaminya lantaran masalah ekonomi. Bahkan cekcok tersebut berujung gugatan cerai.

“Mun cerita sudah menggugat cerai. Tapi saya sendiri belum pernah dikasih lihat suratnya [gugatan],” ujar Heru diiyakan istrinya, Sri Wahyuni, 46.

Dalam proses perceraian itu, Mun hanya tinggal bersama kedua anaknya. Saat akan berjualan ke pasar, Mun kerap menitipkan anaknya yang berusia 2,5 tahun kepadanya sebelum mengantar anak pertamanya yang berusia 7 tahun ke sekolah.

“Pulang dari pasar, Mun menjemput anak yang besar di sekolah lalu ke sini mengambil anaknya yang kecil,” lanjutnya.

Dia menambahkan Adek masih kerap datang ke rumah itu. Namun Heru tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah tersebut.

“Kadang Adek masih datang, tapi kami tidak tahu apa yang terjadi di dalam rumah itu. Tapi katanya Adek memang tidak mau digugat cerai Mun,” kata Heru yang mengaku melihat Adek dan Mun kali terakhir di rumah itu pada Rabu (20/2/2019) siang.

Sri Wahyuni mengaku sangat prihatin dengan peristiwa yang terjadi kepada tetangganya itu. “Saya kasihan sama mereka dan terutama anak-anaknya. Bagaimana keduanya nanti kalau tahu orang tuanya sudah meninggal apalagi dengan cara seperti itu,” ujarnya.

Sebagaimana diberitakan, Adek Haryono dan istrinya, Muntamah, ditemukan sudah tidak bernyawa di rumah dekat bangjo mati Boyolali, Kamis. Adek ditemukan sudah menggantung di tangga ruang keluarga sedangkan Muntamah ditemukan di kamarnya dengan luka memar di leher.