2 Makam Misterius Ditemukan Warga Sanggrahan Klaten Gara-Gara Mimpi

Agus Supadi, 45, warga Dukuh Geneng, Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambanan, Klaten, mengukur makam yang ia temukan bersama teman-temannya setelah menggali pematang sawah di dukuh setempat, Rabu (20/2/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
21 Februari 2019 22:15 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Di tengah areal persawahan Dukuh Geneng, Desa Sanggrahan, Kecamatan Prambanan, Klaten, terdapat dua makam dinaungi peneduh yang belum terbangun sempurna. Di sampingnya tergeletak dua batu.

Dua makam itu berukuran panjang sekitar 85 sentimeter (cm) dan lebar 30 cm. Batu nisan berdiri di kedua ujung masing-masing makam dengan ketinggian sekitar 25 sentimeter.

Makam terbentuk dari susunan batu yang identik dengan batu cadas berwarna putih kekuningan. Kondisi susunan batu makam itu polos alias tak ditemukan ukiran. Sementara salah satu batuan yang mirip dengan struktur batu candi terdapat ukiran.

Benda-benda tersebut ditemukan setelah warga menggali tanggul sawah setinggi satu meter sebulan lalu. Agus Supadi, 45, adalah warga yang menginisiasi penggalian tanggul sawah berstatus tanah kas desa tersebut.

“Awal penggalian itu pada 19 Januari 2019 sekitar pukul 18.00 WIB. Awalnya yang menggali hanya lima orang,” kata Agus saat ditemui wartawan di sekitar lokasi temuan makam, Rabu (20/2/2019).

Niatan Agus bersama temannya menggali gundukan tanah sawah lantaran ingin membuktikan mimpinya saat tertidur di masjid sebulan sebelumnya. Pria yang bekerja sebagai PNS di salah satu SD wilayah Kecamatan Gantiwarno itu biasa menyambangi masjid-masjid bersama teman-temannya setiap Rabu malam dan Kamis malam untuk berselawat.

Saat itu, rombongan jemaah pengajian mendatangi masjid di Desa Kotesan, Kecamatan Prambanan. Saat berselawat, Agus merasa badannya panas hingga ia memilih beristirahat sebentar dan tertidur.

Saat terbangun, Agus heran karena ia bermimpi tidur di samping makam. Cerita dalam mimpi itu lantas disampaikan Agus ke teman-temannya. “Selang beberapa hari ada satu teman yang bercerita dia mengalami mimpi tidur di antara dua makam,” kata Agus.

Agus masih bertanya-tanya makna dari mimpi tersebut. Hingga ia bertemu salah satu kerabatnya bernama Sarmanto yang bercerita di sawah kas desa yang ia garap diperkirakan terdapat makam. Hal itu berawal kecurigaan Sarmanto tentang keberadaan batu di tepi pematang sawah.

“Kemudian saya bersama teman-teman mencoba membuktikannya lantaran juga penasaran dengan mimpi yang sebelumnya saya alami,” urai Agus.

Penggalian oleh lima orang itu mengundang perhatian warga yang berdatangan dan akhirnya membantu mereka. Mereka tak menyangka ketika proses penggalian diperlebar justru menemukan dua batu yang diduga bagian dari bangunan candi.

“Saat awal itu posisi nisan tergeletak. Akhirnya ditempatkan pada makam. Sementara posisi dua makam dan dua batu lainnya tetap kami tempatkan pada posisi semula saat ditemukan,” tutur dia.

Setelah proses penggalian tersebut, warga secara swadaya membuat peneduh berukuran 4 meter x 4 meter. Hingga kini, proses pembangunan peneduh yang dilengkapi dengan penerangan tersebut masih berlangsung.

Alasan pembuatan peneduh agar batu dan makam tetap terjaga dan tak rusak akibat guyuran hujan. “Setiap malam ada warga yang mengecek di sekitar makam. Itu kami lakukan untuk menghindari orang-orang yang menyalahgunakan temuan ini,” tutur Agus.

Agus mengakui sejak makam tersebut ditemukan, banyak warga dari luar desa yang berdatangan seperti Yogyakarta dan Solo. Agus juga menuturkan sebagian pengunjung ada yang mengaku dari Keraton Solo.

Tak hanya penasaran dengan bentuk makam, sejumlah warga juga datang untuk berziarah ke makam tersebut. Sisa bunga ditaburkan di permukaan makam serta dupa ditancapkan di sekitar makam.

Agus tak mengetahui sejarah makam di tengah sawah Dukuh Geneng tersebut. Warga meyakini makam tersebut sudah berusia ratusan tahun salah satunya dari ukuran dan bentuk makam yang berbeda dibanding makam pada umumnya.

Daerah sekitar makam terdapat sumber mata air hingga cerita sosok Gus Santri. “Daerah di sekitar area sawah ini memang dikenal ada sosok yang disebut warga dengan nama Gus Santri. Sosoknya manusia bersorban dan berbaju putih,” tutur Agus.

Agus sudah melaporkan penemuan itu ke Balai Arkeologi Yogyakarta untuk memastikan apakah temuan tersebut termasuk cagar budaya atau bukan. “Sudah kami laporkan melalui e-mail dan mendapat jawaban, tindak lanjut menunggu instruksi dari pimpinan balai,” jelas Agus.

Kepala Desa Sanggrahan, Topo Sawarno, membenarkan ada warga yang menemukan makam di bawah gundukan pematang sawah tanah kas desa sebulan lalu. Ia mengaku cerita keberadaan makam di tanah kas desa tersebut sudah ada sejak lama.

“Soal umur makam, menurut perkiraan saya berkisar puluhan tahun. Karena ada makam yang bentuknya identik dengan makam tersebut di desa kami dan kompleks permakamannya ada sejak 1940-1950,” jelas dia.