Dukung Perkembangan Industri Tekstil, IAPE Digelar di Solo

Pengunjung melihat proses kerja mesin bordir yang dipamerkan dalam Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2019 di Diamond Solo Convention Center, Solo, Kamis (21/2/2019). - solopos.com / M. Ferri Setiawan
22 Februari 2019 15:50 WIB Farida Trisnaningtyas Solo Share :

solopos.com, SOLO — Industri pertekstilan menjadi salah satu sektor yang sangat potensial untuk menumbuhkan perekonomian di Indonesia. Namun demikian, industri mesti ditunjang dengan sumber daya manusia (SDM) dan teknologi sehingga Indonesia makin moncer sebagai negara yang industri manufakturnya memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 10%. Salah satu upaya untuk mendukung perkembangan industri tekstil adalah dengan penyelenggaraan Indonesia Apparel Production Expo (IAPE) 2019 di Diamond Convention Center, Kamis – Minggu (21-24/2/2019).

Wakil Ketua Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) Jawa Tengah, Lilik Setiawan, mengatakan industri manufaktur masuk 10 besar sebagai industri penyokong perekonomian di Indonesia. Namun demikian, ini mesti ditunjang dengan SDM yang kuat serta dukungan teknologi yang makin up to date. “Negara-negara lain di Asia terus mengejar kita. Maka dari itu, bagaimana caranya agar in industri semakin tumbuh sehingga memberikan konstribusi yang besar untuk negara,” ujarnya, kepada wartawan.

Kementerian Perindustrian dalam Analisis Perkembangan Industri 2018 menyebut pertumbuhan yang relatif tinggi terjadi pada industri tekstil dan pakaian jadi. Pada triwulan III 2018 tercatat sebesar 10,17% (year on year). Pertumbuhan ini merupakan peningkatan dari pertumbuhan sebesar 6,39% (yoy) pada triwulan II 2018. Terjadinya pertumbuhan tinggi pada kelompok industri tekstil dan pakaian jadi disebabkan karena terjadinya kenaikan pertumbuhan, baik pada industri tekstil, maupun pada industri pakaian jadi.

Sedangkan berdasarkan data yang dirilis United Nations Statistics Division pada 2016, Indonesia menempati peringkat keempat dunia dari 15 negara yang industri manufakturnya memberikan kontribusi terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) lebih dari 10%. Indonesia mampu menyumbangkan hingga mencapai 22% setelah Korea Selatan (29%), Tiongkok (27%), dan Jerman (23%). “Pameran ini adalah salah satu cara untuk mendongkrak sektor industri manufaktur. Tidak hanya untuk pelaku industri, tapi juga masyarakat luas sehingga memberikan multi player effect kepada semua pihak,” imbuhnya.

Direktur More Media selaku penyelenggara pameran IAEP, Aulian Suhandika, menambahkan pameran ini menampilkan industri mesin garmen, sablon, dan yang terbaru digital printing tekstil. Menurutnya, saat ini erat kaitannya dengan ekonomi kreatif sehingga salah satu tujuan penyelenggaraan pameran tersebut adalah mendorong kemajuan sektor ekonomi kreatif. “Penyumbang devisa selain sektor nonmigas adalah industri kreatif. Dari 16 subsektor ekonomi kreatif yang menyumbang paling tinggi adalah industri fashion. Selain itu, pameran dipilih karena sampai saat ini promosi paling efektif adalah pameran. Memang, promosi online juga bagus, tapi dalam urusan business to business interaksi langsung sangat penting,” katanya.

Julian menyatakan industri pakaian di Soloraya juga sangat menjanjikan. Menurutnya, di beberapa kota tempat digelarnya pameran Indonesia Apparel Production Expo industri ini tumbuh signifikan. Sebagai contoh, yakni usaha sablon dan fashion.

Sementara itu, Marketing PT Surya Wahana Fortuna sebagai salah satu peserta, Sutrisno, memaparkan pihaknya hadir sebagai distributor mesin bordir. Sutrisno mengklaim mesin bordir merek Indonesia ini banyak dipakai oleh pelaku UKM di seluruh Indonesia. “Mesin kami bisa untuk mengerjakan bordiran pada topi, kaos atau baju, tas hingga bahan lembaran dengan desain bordir ekstra besar. Mesin ini tentu bisa sangat membantu produksi UMKM di Indonesia dan tentunya dengan harga terjangkau,” katanya.

Tahun ini pameran diikuti oleh berbagai peserta dari bidang produksi pakaian di Indonesia. Antara lain, PT Surya Wahana Fortuna yang menghadirkan mesin bordir terkini, PT Mastar Perdana dengan mesin jahit, bordir, dan label bermerk Siruba. Ada pula mesin jahit oleh Sakura Stitch, PT Sion Alexanders Mitra Sukses, dan Zoje Indo. Sedangkan teknologi terkini digital printing untuk produksi pakaian ada Printmate, Gading Murni, Central SPS, Kresna, Binterjet, dan Crystal Jet. Sementara untuk penyedia bahan kain ada Altra Multi Sandang dan penyedia bahan label oleh PT Citra Sukses Persada dan Gunung Mas Labeltech. Tak ketinggalan di bidang sablon konvensional dan digital dengan menggandeng PT Rhino Indonesia Sukses, Charlie SPS, dan Komunitas Sablon Solo.