Bupati Sukoharjo Jamin Pendidikan Anak SD Korban Pemerkosaan Bapak Angkat

Ilustrasi pemerkosaan anak (Asiaone.com)
22 Februari 2019 18:15 WIB Indah S.W./Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Kasus pemerkosaan yang dialami anak yatim piatu, M, siswa kelas VI sekolah dasar (SD) membuat Bupati Sukoharjo Wardoyo Wijaya prihatin.

Orang nomor satu di Kabupaten Sukoharjo ini menjamin pendidikan bagi M yang kini tinggal bersama neneknya di Grogol, Sukoharjo. M yang diperkosa JS, bapak angkat yang mengasuhnya sejak setahun lalu di daerah Susukan, Tengaran, Kabupaten Semarang, kini sedang hamil lima bulan.

Kedua orang tua M sudah meninggal dunia. "Ini kasus yang sangat memprihatinkan. Kami sudah koordinasikan dengan seluruh jajaran terkait untuk penanganan korban," kata Bupati kepada wartawan di Sukoharjo, Jumat (22/2/2019).

Bupati memerintahkan Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) untuk menerjunkan bidan desa guna memantau perkembangan M dan calon bayi yang dikandungnya. Hal ini untuk memastikan M dan bayinya selalu dalam kondisi sehat.

Tak hanya itu, Bupati juga menjamin pendidikan bagi M yang masih berstatus pelajar sekolah dasar. "Korban harus tetap sekolah. Kami menjamin pendidikan korban setelah melahirkan nanti," katanya.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Sukoharjo Proboningsih Dwi Danarti mengatakan akan membantu memberikan pendampingan berkaitan dengan perlindungan anak. Hal itu sangat penting mengingat M masih berstatus anak SD.

“Keberadaan anak ini terus kami pantau dan kami beri pendampingan agar kondisi psikologisnya kembali normal termasuk berkaitan pendidikan terhadap M,” ujarnya.

Ketua Tim Penggerak Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) Sukoharjo, Etty Suryani Wardoyo Wijaya, bersama anggota PKK Kecamatan Grogol mengunjungi M di rumah neneknya, Kamis (21/2/2019). Etty ingin mengetahui kondisi kesehatan dan psikis M.

“Kami berkomitmen mendampingi korban hingga proses melahirkan. Ara tetap melanjutkan sekolah karena sebentar lagi harus mengikuti ujian. Mungkin dipindah ke sekolah di wilayah Grogol,” kata Etty saat berbincang dengan Solopos.com, Kamis.

Etty sempat mengobrol dengan M selama lebih dari 20 menit di dalam rumah. Kala itu, Etty berbincang santai sembari memberikan semangat dan motivasi agar M selalu menjaga kesehatan dan janin yang dikandungnya.

Petugas kesehatan bakal mengawasi kondisi kesehatan M secara berkala hingga melahirkan. “Saya sebenarnya tidak tega melihat kondisi kesehatannya. Miris sekali. Korban harus mendapat perlindungan anak dari berbagai aspek. Alhamdulillah, kondisi kesehatan janin yang dikandungnya baik,” ujar dia.

Seorang bidan anak Puskesmas Grogol, Sarni, mengatakan M masih trauma setelah mengetahui dirinya hamil. M telah menjalani USG kandungan di RSUP dr. Kariadi, Semarang, beberapa waktu lalu. M akan kembali menjalani pemeriksaan USG pekan depan.

“Risikonya banyak sekali karena organ reproduksinya belum siap. Begitu juga janin bayi dalam kandungan. Karena itu, saya bakal mendampingi korban hingga setelah proses melahirkan bayi,” papar dia.

Sementara itu, Direktur Yayasan Kakak Solo, Shoim Sahriyati, menyatakan ada tren perubahan pola kasus kekerasan seksual terhadap anak. Beberapa tahun lalu, korban kekerasan seksual terhadap anak didominasi pelajar SMA.

Kemudian pola itu bergeser menjadi pelajar SMP yang menjadi korban kekerasan seksual terhadap anak. Kini, tak sedikit siswa SD yang menjadi korban kekerasan seksual terhadap anak.