Harga Turun, Jagung Tak Dijual Tapi untuk Pakan Ternak Petani Karanganyar

Suyatmi, 59, mengupas kulit jagung di lahan pertaniannya di Desa Pojok, Mojogedang, Kamis (21/2 - 2019). Dia memiliki lahan yang ditanami jagung seluas 5.000 meter persegi.
22 Februari 2019 19:06 WIB Wahyu Prakoso Karanganyar Share :

Solopos.com, KARANGANYAR -- Jelang panen raya jagung, harga jagung turun menjadi Rp3.300 per kilogram. Petani di Desa Pojok, Kecamatan Mojogedang, mengaku keuntungan yang mereka peroleh minim.

Salah satu petani jagung di Pojok, Sumidi, 48, memanen jagung di lahannya seluas 900 meter persegi. Dia mengatakan harga jagung turun sejak Tahun Baru Imlek. “Harga jagung saat Imlek sempat Rp6.000 per kilogram. Pekan lalu, kabarnya Rp4.700 per kilogram. Kalau harga jatuh, jagungnya saya pakai untuk pakan ternak saja. Saya memelihara dua ekor sapi di rumah,”katanya kepada Solopos.com saat ditemui di lahannya, Kamis (21/2/2019).

Petani jagung lainnya, Suyatmi, 59, mengatakan memiliki dua lahan seluas 1.000 meter persegi dan 4.000 meter persegi. Lahan tersebut ia tanami jagung. Dia mengaku, memilih jagung karena lahan lahannya sudah ditanami pohon jati sehingga tanaman lain tidak bisa tumbuh dengan baik.

“Sudah puluhan tahun saya menanam jagung. Kabarnya harga jagung turun jadi Rp4.500 per kilogram. Tanam jagung untungnya sedikit. Hasil panenan ini saya jual ke anak saya. Dia butuh jagung untuk pakan ternaknya. Anak saya peternak ayam dan babi,” ujarnya kepada Solopos.com saat ditemui di ladangnya, Kamis.

Suyatmi menjelaskan, dari dua lokasi ladangnya tersebut, hasil panen bisa mencapai satu ton. Dia mengaku, untuk proses penanaman jagung hingga panen, ia menghabiskan biaya Rp2 juta.

“Kendala menanam jagung biasanya hama berupa ulet (ulat yang hidup di dalam tanah). Ulet suka makan akar jagung sehingga pohon jagung mati sebelum berbuah. Selain itu, wereng dan jamur juga menjadi kendala,” ujarnya kepada Solopos.com.

Pengepul kacang tanah dan jagung di Desa Pojok, Tri Lestari, 29, mengatakan harga jagung sedang turun. Dia menerima hasil panenan jagung dari Karanganyar dan kota sekitar. Dia menjelaskan, harga jagung turun disebabkan hasil panen melimpah dan adanya kebijakan impor jagung.

“Saya jual jagung Rp4.000 per kilogram. Saya beli dari petani Rp3.300 per kilogram. Para petani yang mengantar hasil panennya ke sini. Jarang petani dari Pojok, biasanya dari Boyolali, Wonogiri, dan Sragen,”ujarnya kepada Solopos.com saat ditemui di rumahnya.

Lestari menjelaskan, di musim penghujan banyak jagung yang jamuran, dia dan karyawannya membutuhkan waktu empat hari untuk mengeringkan jagung sebelum dijual. Dia mengaku menjual jagung kepada peternak ayam di sekitar wilayah Karanganyar.