Ini Humor Tingkat Tinggi Gus Dur-PB XII

K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). (solopos - Dok)
23 Februari 2019 07:40 WIB Alifia Nur Maftukha Yuliana Solo Share :

Solopos.com, SOLO--Haul ke-9 K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) digelar di Solo. Ada jejak-jejak Gus Dur di Solo. Salah satunya adalah Gus Dur dekat dengan Keraton Solo.

Presiden ke-4 ini menjadi kerabat Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat pada 9 Oktober 2002. Gus Dur menyandang gelar tertinggi yang diberikan oleh keraton kepada orang yang bukan kerabat asli keluarga keraton. Di depan nama K.H. Abdurrahman Wahid disematkan gelar Kanjeng Pangeran Aryo (KPA). Jadi nama lengkapnya adalah K.P.A. K.H. Abdurrahman Wahid.

Penganugerahan gelar tersebut dilaksanakan dalam peringatan jumenengan dalem atau upacara naik takhta ke-59 Susuhunan Paku Buwono XII .  Menurut Pengageng Parentah Keraton Solo K.G.P.H. Dipokusumo, Jumat (22/2), Gus Dur diberi gelar karena banyak kesamaan pandangan dengan keraton dalam hal perubahan budaya di era global.

Keraton menganggap Gus Dur tokoh dunia yang berperan dalam perdamaian lintas agama dan golongan. Tokoh lain yang diberi gelar serupa adalah Chinmoy Kumar Ghose atau Sri Chinmoy. Sri Chinmoy adalah master spiritual India yang mengajarkan meditasi di negara-negara barat setelah pindah ke New York pada 1964.

Gelar kanjeng pangeran merupakan gelar tertinggi yang diberikan kepada orang yang bukan bagian trah asli keraton. Sementara gelar aryo  berarti sesuatu yang memiliki nilai kepemimpinan dan keteladanan. Gus Dur adalah tokoh perdamaian dunia dan presiden Indonesia. Dengan diberikannya gelar tersebut, diharapkan nilai-nilai yang terkandung dalam gelar dapat memberi manfaat dan menjadi teladan bagi rakyat Indonesia.

Nilai-nilai budaya Jawa yang terkandung dalam gelar tersebut antara lain andhap asor atau rendah hati, dunga-dinunga atau saling mendoakan, ngapura ing ngapura atau saling memaafkan, dan daya dinaya atau gotong royong.

Menurut Dipokusumo, Gus Dur sangat memahami nilai-nilai budaya Jawa termasuk dalam hal berpakaian kejawen. Nilai positif tersebut jika disampaikan pada masyarakat tentu akan sangat bermanfaat.

Menjadi kerabat, membuat Gus Dur sering menghadiri acara-acara keraton, di antaranya adalah peringatan 1 Sura. Ritual yang dilakukan di antaranya adalah doa bersama, kirab pusaka, meditasi, Salat Hajat, dan Salat Subuh berjemaah.

Menurut putra ke-18 PB XII yang kini menjadi Kepala Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Slamet Riyadi ini, Gus Dur dan PB XII sama-sama suka guyon. Mereka sama-sama memiliki selera humor yang tak jarang menggunakan bahasa tingkat tinggi dan berbau spiritual. Jadi, tak jarang banyak orang yang tidak memahami humor antara PB XII dan Gus Dur.

Selain itu Gus Dur juga dikenal mudah akrab dengan lawan bicara apalagi diselingi dengan humor. Kemampuan diplomasi atau quality of diplomacy  Gus Dur juga begitu kuat. PB XII dan Gus Dur begitu akrab mengobrol. Saat bertemu pun langsung terlibat obrolan hangat.

Pada suatu ketika, PB XII bertanya kepada Gus Dur tentang masalah-masalah di masyarakat. Pripun niki masyarakat [Bagaimana ini masyarakat?]?”

Gus Dur pun menjawab sambil tersenyum simpul, “Ngeten Sinuhun, obate niku tobat [Begini Sinuhun, obatnya adalah tobat].”

Kedekatan keduanya juga terlihat saat melancong ke Kuala Lumpur, Malaysia, Desember 2002.  Gus Dur diajak PB XII untuk merayakan ulang tahunnya di sana.