Tim Pemkab Sukoharjo Dampingi Anak SD Korban Pemerkosaan Bapak Angkat

ilustrasi pencabulan. (Solopos/Whisnu Paksa)
23 Februari 2019 16:00 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO -- Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Sukoharjo menaruh perhatian besar terhadap kasus kekerasan seksual terhadap anak yang menimpa M, 13, warga Kecamatan Grogol, Sukoharjo.

Selama Januari-pertengahan Februari tercatat ada lima kasus kekerasan anak di Sukoharjo.

Kepala DPPKBP3A Sukoharjo, Proboningsih Dwi Danarti, mengaku prihatin terhadap kasus kekerasan seksual terhadap M yang diduga dilakukan ayah angkatnya, JS, hingga mengakibatkan bocah SD itu berbadan dua. 

“Tim dari Pemkab Sukoharjo bakal mendampingi M dari berbagai aspek meliputi kesehatan, mental dan pendidikan. Saya terenyuh dan tidak tega saat bertemu langsung M di rumah neneknya,” kata dia, Jumat (22/2/2019).

Tim khusus yang dibentuk Pemkab bakal bersinergi mendampingi M hingga setelah proses melahirkan bayi. Saat ini, petugas kesehatan dari puskesmas bakal mendampingi M agar kondisi janin yang dikandungnya tetap sehat. Petugas kesehatan juga bakal memberikan asupan gizi terhadap M.

Selain itu, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo bakal mengurus kelanjutan pendidikan M yang duduk di kelas VI. Dia tak lama lagi menempuh ujian sekolah.

“Ini komitmen pemerintah untuk memberikan perlindungan terhadap anak korban kekerasan seksual. Anak itu masih memiliki masa depan yang cerah,” ujar dia.

Sesuai Pasal 4M ayat 1 Perda No 16/2016 tentang Penyelenggaraan Perlindungan Anak menyebutkan setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau perjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. Orang tua harus menjamin hak dan pelayanan anak.

Wanita yang akrab disapa Probo itu menyampaikan kasus kekerasan anak lainnya yang menjadi sorotan publik adalah penganiayaan yang menimpa Retno Ayu Wulandari, 14, warga rumah susun sewa sederhana (Rusunawa) II Begalon, Laweyan, Kota Solo, pada Oktober 2018. Retno meninggal dunia setelah dianiaya temannya, IA, 17, di kawasan Gatak Sukoharjo,

DPPKBP3A mencatata jumlah kasus kekerasan anak hingga pertengahan Februari 2019 sebanyak lima kasus. Sementara jumlah kasus kekerasan anak selama 2018 lebih dari 30 kasus.

“Aduan masyarakat itu didominasi pelanggaran hak anak yang dipicu perebutan hak asuh anak. Biasanya, saat orang tua resmi bercerai, mereka saling memperebutkan hak asuh anaknya,” ungkap dia.

Sementara itu, pengurus Forum Anak Sukoharjo (Fanasko), Ferina Indah Sari, mengaku miris lantaran masih ada kasus kekerasan seksual terhadap anak.

Menurut Ferina, setiap anak wajib mendapatkan hak perlindungan baik dari orang tua maupun pemerintah. Salah satu upaya perlindungan anak adalah membangun kabupaten layak anak (KLA).