Menguak Kubur Kuno dengan Harta Karun di Situs Sangiran Sragen, Misi Penggalian Dimulai

Ilustrasi Museum Sangiran (Solopos/Kurniawan)
23 Februari 2019 03:17 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN-Lebih dari 10 arkeolog dilibatkan dalam Kajian Potensi Cagar Budaya Situs Sangiran Tahap II yang meliputi kegiatan penggalian kubur kuno peninggalan zaman megalitikum.

Misi penggalian kubur kuno ini dimulai pada Jumat (22/2/2019) dan akan berakhir pada Selasa (5/3/2019) mendatang. Ini adalah program ekskavasi kedua yang dilaksanakan Balai Pelestarian Situs Manusia Purba (BPSMP) Sangiran. Pada 2016 lalu, kegiatan serupa pernah dilakukan tak jauh dari di Situs Manusia Purba Klaster Dayu di Gondangrejo, Karanganyar.

"Penggalian di Dayu, kami hanya menemukan pecahan periuk dan gerabah, tapi tidak menemukan kubur kunonya," jelas Kepala BPSMP Sangiran, M. Hidayat, kepada Solopos.com, Jumat (22/2).

Hidayat menjelaskan temuan periuk dan gerabah yang berada di kedalaman sekitar satu meter dari permukaan tanah itu menjadi petunjuk adanya budaya zaman megalitikum di kawasan Situs Sangiran.

Pada zaman itu, kata dia, manusia sudah berpikir lebih modern karena mampu menciptakan berbagai perkakas yang terbuat dari tanah liat, senjata dari bahan perunggu, perhiasan manik-manik dan lain-lain. Peralatan dan perhiasan manik-manik yang menjadi harta kekayaan pada masa itu kemudian ikut dikubur bersama jasad pemiliknya.

"Pada era 1970-an ternyata cukup marak pencurian terhadap manik-manik yang ada dalam kubur kuno ini di kawasan Situs Sangiran ini. Warga sekitar biasa menyebutnya Kubur Buddha, mungkin mereka mengira kuburan yang di dalamnya ada barang-barang berharga itu budaya umat Buddha. Padahal, itu adalah budaya megalitikum. Barang-barang itu dibuat oleh manusia modern, bukan manusia purba. Kami belum pernah meneliti dengan lab, tapi kemungkinan itu dibuat pada awal Masehi," terang Hidayat.

Setelah mendapat informasi dari masyarakat sekitar, terutama dari para mantan pemburu harta kekayaan pada masa lalu itu, BPSMP Sangiran kemudian memulai kembali proses penggalian atau ekskavasi dengan sasaran kubur kuno pada zaman megalitikum. Pada Jumat, tim arkeolog sudah menyurvei beberapa lokasi di kawasan Desa Bukuran, Ngebung dan Manyarejo. Rencananya, penggalian itu akan difokuskan di dua lokasi.

"Melalui kegiatan ini, kami ingin memperkuat nilai-nilai budaya masa lalu yang tersimpan di Situs Sangiran. Selama ini, Sangiran lebih dikenal sebagai situs manusia purba. Padahal, ternyata ada nilai-nilai budaya peninggalan megalitikum yang belum tergali," ujar Ketua Tim Peneliti, Haris Rahma Nendra.