Sociëteit, Tempat Dansa dan Pesta Elite Solo di Masa Kolonial

Keraton Solo - Tamara Geraldine
24 Februari 2019 11:00 WIB Alifia Nur Maftukha Yuliana Solo Share :

Solopos.co, SOLO--Kota Solo pada zaman kolonial terus berkembang. Kebutuhan masyarakat akan sarana berkumpul dan mencari hiburan pun semakin meningkat. Banyak kalangan atas (Belanda dan bangsawan pribumi) yang membutuhkan hiburan berbau Eropa. Salah satunya adalah Sociëteit yang digunakan sebagai tempat untuk berkumpul, dansa, pesta, biliar, dan sebagainya. Sociëteit pada mulanya berkembang di Batavia, lalu didirikan di kota lain termasuk Solo.

Kata Sociëteit dalam bahasa Belanda  berarti masyarakat. Sesuai dengan arti katanya, Societeit menjadi pusat berkumpulnya masyarakat Solo. Masyarakat Solo pada zaman dulu kerap menyebutnya ngesus dari kata Soos.

Sociëteit di Kota Solo terus berkembang hingga fungsinya tak lagi sebagai sarana hiburan, namun juga pusat edukasi dan diskusi masyarakat. Di Solo ada tiga Sociëteit, yaitu Sociëteit Mangkoenegaran, Sociëteit Harmonie, dan Sociëteit Habipraya. Namun, bangunan yang masih tersisa hingga hari ini hanya Sociëteit Mangkunegaran yang kini menjadi Monumen Pers di Jl. Gajahmada.

 Sociëteit Mangkoenegaran

Monumen Pers Nasional (Dok Solopos.com)

Sociëteit Mangkoenegaran dibangun pada 1918 atas prakarsa Pangeran Arya Prangwerdhana atau Mangkunegara VII. Gedung yang dirancang Mas Aboekasan Atmodirono ini juga disebut Sociëteit Sasana Soeka. Gedung ini dibangun dengan tujuan utama memberikan tempat hiburan kepada rakyat karena hiburan di dalam keraton tidak bisa digunakan dengan mudah oleh masyarakat umum.

Pada 1933, diselenggarakan pertemuan di yang dipimpin RM. Ir. Sarsito Mangoenkoesoemo yang melahirkan gagasan mengenai Soloche Radio Vereeniging. Radio tersebut merupakan radio pertama kaum pribumi yang menyuarakan semangat kebangsaan.

Berdasarkan leaflet Monumen Pers, pada Sabtu Pahing, 9 Februari 1946, diadakan konferensi di Sociëteit yang diikuti wartawan yang kemudian menjadi momen lahirnya Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Organisasi itu diketuai Mr. Soemanang.

Pada 9 Februari 1956, tepat pada peringatan satu dasawarsa PWI, tercetus gagasan untuk mendirikan Yayasan Museum Pers Indonesia. Beberapa tokoh yang menjadi inisiator ide tersebut adalah B.M. Diah, S. Tahsin, dan Rosihan Anwar.

Pada Kongres PWI di Palembang pada 1970, muncul rencana mendirikan Museum Pers Indonesia. Satu tahun kemudian, Menteri Penerangan Budiarjo menyatakan pendirian Museum Pers Nasional menempati Sociëteit Mangkoenegaran.

Pada 9 Februari 1978, Presiden Soeharto meresmikan berdirinya Monumen Pers Nasional sekaligus meresmikan perubahan nama gedung yang semula Sociëteit Mangkoenegaran menjadi Monumen Pers Nasional.

Arnain, petugas Pelayanan Informasi Monumen Pers Nasional menyatakan gedung Sociëteit Mangkoenegaran ini pernah digunakan sebagai markas pusat PMI Solo dan rapat SRV.

Sociëteit Harmonie

Societeit Harmonie (Koleksi Tropen Museum)

Pada 1874 dibangun gedung hiburan bernama Sociëteit Harmonie di timur Benteng Vastenburg dan di selatan Kali Pepe.  Heri Priyatmoko, dosen Ilmu Sejarah Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pendiri komunitas Solo Sociëteit, menjelaskan sebelumnya Sociëteit Harmonie adalah sebuah losmen. Sebagaimana Sociëteit pada umumnya, tempat tersebut digunakan untuk pesta minum, permainan biliar, kartu, dansa, dan pesta topeng.  Sociëteit yang terletak di kampung ini semula hanya terbuka untuk orang Eropa. Seiring berjalannya waktu, Sociëteit Harmonie terbuka untuk bangsawan pribumi.

Dalam perkembangannya, Sociëteit Harmonie tak lagi difungsikan sebagai tempat hiburan saja, namun juga sarana pendidikan. Pada 4 Januari 1908, diselengggarakan konser Korps Musik Kepatihan dengan komposisi musik klasik barat di Sociëteit Harmonie. Seiring berjalannya waktu, Sociëteit Harmonie digunakan untuk pementasan wayang kulit, ketoprak, tari klasik tradisional, dan opera.

Sociëteit Habipraya

Societeit Habiprojo (Koleksi Tropen Museum)

Informasi yang dihimpun Solopos.com dari berbagai sumber,  setelah Sociëteit Harmonie dibangun, Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat membangun Sociëteit Habipraya atau Sociëteit Habiprojo. Pada mulanya, Habipraya adalah organisasi priyayi di Solo. Organisasi ini membutuhkan ruang pertemuan . Maka dari itu, Paku Buwono X memerintahkan pendirian gedung pertemuan di utara Singosaren pada 1910. Gedung Habiprojo sudah tidak ada . Gedung ini juga digunakan untuk perkumpulan organisasi sosial dan partai politik . Pada 23 Desember 1933, para jurnalis membentuk Persatoean Djoernalis Indonesia (Perdi) di gedung ini.  Dokter Soetomo mendeklarasikan Partai Indonesia Raya (Parindra) di gedung ini juga.