Miniatur Kapal dalam Botol Karya Pria Klaten Rambah Luar Negeri

Agung Santoso, 36, warga Dukuh Ngaglik, Desa Klepu, Ceper, Klaten, menunjukkan miniatur kapal layar dalam botol kaca, Jumat (22/2 - 2019). (Solopos/Taufiq Sidik Prakoso)
24 Februari 2019 04:00 WIB Taufik Sidik Prakoso Klaten Share :

Solopos.com, KLATEN -- Agung Santoso, warga Dukuh Ngaglik, Desa Klepu, Kecamatan Ceper, Klaten. mencari alternatif usaha lain saat mulai jenuh memproduksi dan menjual tempe.

Penghasilan yang ia peroleh tak cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari terutama saat ada kegiatan di kampung seperti hajatan atau menengok tetangganya yang sakit. Apalagi, Agung termasuk tokoh pemuda di tempat tinggalnya Dukuh Ngaglik.

Pria lulusan MTs Tegalarum, Kecamatan Karanganom, itu mencari cara untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Ide muncul ketika pria yang kini berusia 36 tahun itu berada di tempat tongkrongannya Malioboro, Jogja. Ia melihat salah satu kerajinan yang dijual berupa miniatur kapal layar di dalam botol.

Agung lantas praktik di rumahnya. Berbekal ilmu autodidak, Agung berhasil membuat kerajinan miniatur kapal di dalam botol.

“Awalnya itu hanya melihat barangnya saja. Dari penutup botol yang kecil, bagaimana cara memasukkan miniatur kapal layar di dalamnya? Kemudian saya bayangkan prosesnya dan saya praktikkan akhirnya jadi,” tutur Agung saat ditemui di rumahnya, Jumat (22/2/2019).

Ia terus menyempurnakan kerajinan yang ia buat seperti mengecat kayu miniatur kapal hingga berkilau. Karyanya lantas dipasarkan ke Malioboro seusai Agung berjualan tempe. Ternyata hasil produksinya banyak yang suka dan pedagang siap menampung.

Pesanan kian bertambah. Tak hanya pedagang Malioboro, pesanan datang dari pengepul kerajinan berbagai kota seperti Makassar, Bali, serta Surabaya. Agung memberanikan diri meninggalkan produksi tempe dan fokus membuat miniatur kapal dalam botol sejak delapan tahun lalu.

Perhitungan Agung meninggalkan produksi tempe tepat setelah pasar penjualan miniatur kapal dalam botol semakin luas. Karya Agung dijual hingga ke berbagai negara seperti seperti Turki, Kalifornia Amerika Serikat, Fiji, dan Kepulauan Bahama.

Kain Bekas

Banyaknya pesanan yang datang membuat Agung melibatkan warga di sekitar tempat tinggalnya. Ibu rumah tangga ia berdayakan untuk membantu membikin bagian kerajinan seperti layar kapal berbahan kain bekas.

“Saat ini ada 13 orang yang membantu saya. Ada yang membuat layar, menali penutup, atau meja botol. Mereka mengerjakannya di rumah masing-masing,” jelas dia.

Kerajinan kapal layar dalam botol dibuat menggunakan barang bekas. Seperti botol minuman kaca yang ia peroleh dari pengepul barang bekas. Kayu untuk miniatur kapal diperoleh dari limbah kerajinan. Begitu pula penutup botol serta meja untuk meletakkan botol.

Perangkaian miniatur kapal dilakukan di dalam botol. Peralatan yang digunakan sederhana yakni penjepit yang dibuat dari bambu, ruji sepeda untuk merangkai hingga mengikat tali, serta gunting untuk memotong tali.

Bentuk miniatur kapal menyesuaikan pesanan. Begitu pula dengan teknik perangkaian tali untuk mengikat layar. “Untuk merangkai itu tali menyambung dari awal sampai diikat. Kalau salah perhitungan, bisa jadi tidak sesuai keinginan seperti layarnya terlalu membengkok. Kunci merakit itu sebenarnya hanya sabar,” tutur Agung.

Meski rumit, Agung bisa merangkai satu miniatur kapal di dalam botol dalam tiga menit. Sehari, Agung bisa merangkai hingga 300 miniatur kapal.

Sementara itu, dalam sebulan Agung bisa memproduksi 1.000 miniatur kapal untuk setiap ukuran botol. Ada berbagai ukuran dan bentuk botol seperti kotak, silinder, serta pipih yang digunakan sebagai wadah miniatur kapal.  Sementara, setiap miniatur kapal layar dalam botol ia jual Rp7.000-Rp50.000.

Omzet yang diperoleh Agung bisa menembus puluhan juta rupiah setiap bulannya. “Untuk satu bulan itu, pengeluaran produksi Rp13 juta-Rp15 juta. Kalau omzetnya bisa mencapai tiga kali lipat dari pengeluaran,” katanya.

Agung menjelaskan selama ini perakitan miniatur kapal hanya dilakukan ia bersama anaknya serta satu kerabatnya. Sementara, warga yang dilibatkan dalam produksi kerajinan itu diminta membantu menyiapkan bahan dengan upah menyesuaikan jumlah barang serta jenis yang dibuat.

“Sebelum dilibatkan warga kami latih dulu. Cukup 10 menit saja warga sudah paham dan membuat sendiri,” ungkapnya.