Sudah Berlatih, Siswa SMP di Solo Tetap Bingung Kerjakan Soal HOTS

Ilustrasi UNBK (Solopos/Sri Sumi Handayani)
25 Februari 2019 13:00 WIB Tamara Geraldine Solo Share :

Solopos.com, SOLO — Meski beberapa kali telah mengikuti pelatihan mengerjakan soal berbasis keterampilan berpikir tingkat tinggi atau higher order thinking skills (HOTS), beberapa siswa SMP di Solo tetap kebingungan.

Soal HOTS dalam Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) 2019 masih menjadi momok siswa. Salah satunya siswa SMPN 6 Solo, Ayu Dita. Dia mengaku kesulitan mengerjakan soal latihan UNBK yang berbasis HOTS. “Soal berbasis HOTS ini memang susah. Sekolah setiap hari selalu menggembleng siswanya untuk mengerjakan soal HOTS, tapi latihan itu tidak cukup,” ujarnya saat ditemui Solopos.com di SMA Islam Diponegoro Solo, Minggu (24/2/2019).

Ia khawatir dengan tingkat kesulitan soal UNBK yang bertambah. Kondisi tersebut sangat memengaruhi nilai. Menurut Ayu, nilai UNBK menjadi pertimbangan masuk ke jenjang SMA. “Masih bingung mengerjakan soal berbasis HOTS. Seharusnya soal HOTS diterapkan sejak masuk sekolah,” ujar dia.

Hal senada dirasakan Windy Juliana, siswa SMP Muhammadiyah 8 Solo. Ia menyebut soal latihan UNBK harus dikerjakan dengan nalar tingkat tinggi. “Penalaran satu orang dengan yang lain itu kan berbeda. Saya sudah berlatih dengan menggunakan soal-soal sebelumnya, juga banyak jawaban yang meleset,” ujar dia.

Windy berharap soal HOTS diterapkan siswa sejak memasuki bangku sekolah. “Seharusnya memang diajarkan sejak awal. Banyak peserta di berbagai sekolah yang belum paham dengan materi HOTS,” ujar dia.

Kepala SMA Islam Diponegoro Solo, Ahmadi, menjelaskan metode pembelajaran HOTS agar siswa memiliki keterampilan berpikir kritis dan analitis. “Siswa butuh dukungan untuk mengerjakan UNBK. Soal HOTS menuntut cara berpikir kritis dalam menyelesaikan suatu masalah. Makin sering siswa dilatih menyelesaikan suatu masalah. makin baik tingkat keterampilan menganalisisnya,” ujar dia.

Instruktur Bimbingan Belajar (Bimbel), Sigit Pramono, mengatakan beberapa siswa kewalahan mengerjakan soal-soal latihan yang menggunakan sistem HOTS. “Saya sering menemukan siswa kewalahan. Padahal siswa sudah sering mengikuti tryout di berbagai tempat,” ujarnya saat ditemui Solopos.com secara terpisah di ruangan Kepala SMA Islam Diponegoro.

Sigit meminta pemerintah memberikan soal yang membutuhkan daya nalar tinggi itu sejak awal sekolah. “Seharusnya diberikan sejak siswa masuk sekolah dasar. Jadinya siswa tidak kaget saat mengerjakan soal berbasis HOTS,” ujar dia.