8 Orang di Solo Terserang Demam Berdarah, Jumantik Dioptimalkan

Ilustrasi nyamuk Aedes aegypti pembawa penyakit demam berdarah dengue (DBD). (Antara/Anis Efizudin)
25 Februari 2019 07:00 WIB Mariyana Ricky Prihatina Dewi Solo Share :

Solopos.com, SOLO—Delapan orang di Kota Solo dilaporkan terserang penyakit demam berdarah dengue (DBD). Tujuh tambahan kasus tersebut terjadi hanya selang tiga pekan setelah temuan kasus pertama di akhir Januari.

Kepala Dinas Kesehatan (DKK) Kota Solo, Siti Wahyuningsih, mengatakan rata-rata yang terserang adalah warga di daerah endemik. “Tahun ini DBD wajib diwaspadai semua pihak. Sekalipun jumlah kasus tersebut berhasil ditekan tahun lalu, namun menilik tren lima tahunan, ini berpotensi naik kembali pada tahun ini. Kami enggak ingin hal itu terjadi. Bicara DBD adalah bicara perilaku. Jadi warga harus memperhatikan kebersihan lingkungan. Jangan sampai ada telur jadi jentik, lalu jentik berkembang menjadi nyamuk,” kata dia Jumat (22/2/2019).

Ning, sapaan akrabnya, mengatakan pada 2018 tercatat 24 kasus warga yang positif DBD. Angka tersebut turun drastis dari tahun sebelumnya, yakni 146 kasus. Sementara pada 2016 angkanya pernah menyentuh 751 kasus. 

Sebanyak 24 kasus yang terjadi pada 2018 menyebar di sembilan kelurahan, dengan angka tertinggi tujuh kasus di Kelurahan Banyuanyar. Menyusul berikutnya Kelurahan Mojosongo dengan enam kasus dan tiga kasus di Kelurahan Pucangsawit. Kelurahan Sondakan dan Gajahan masing-masing dua kasus dan satu kasus ditemukan di Kelurahan Pajang, Karangasem, Kauman dan Sumber.

“Solo menjadi daerah tujuan wisata, selain dekat dengan daerah endemis DBD seperti Sragen. Kewaspadaan harus ekstra. Harapannya jumlah yang terserang enggak bertambah,” kata dia.

Wali Kota Solo, F.X. Hadi Rudyatmo, mengaku bakal berupaya menekan angka serangan DBD dengan optimalisasi juru pemantau jentik (jumantik), maupun pembagian abate kepada warga. Ia juga mengintruksi para perangkat wilayah, terutama lurah, untuk menggiatkan program Jumat Bersih. Program kerja bakti itu dimaksudkan untuk menjaga kebersihan lingkungan sekaligus mengurangi potensi penyebaran bibit penyakit.

“Yang penting saat ini adalah menumbuhkan kesadaran masyarakt dalam mencegah datangnya penyakit,” kata dia.