Lomba Kicau Burung di Cagar Budaya Langenharjo, Sukoharjo

Penggemar burung atau kicau mania mengikuti lomba di halaman pemandian air hangat di Desa Langenharjo, Kecamatan Grogol, Sukoharjo, beberapa waktu lalu. - R. Bony Eko Wicaksono
25 Februari 2019 05:30 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO--Tembok setinggi lebih dari tiga meter berdiri kokoh di pinggir jalan perkampungan di Desa Langenharjo, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Cat tembok warna putih terlihat memudar dan kusam. Ada satu pintu kayu di tembok tebal itu. Tembok itu mengelilingi area pemandian air hangat di Desa Langenharjo.

Pemandian air hangat itu merupakan situs cagar budaya yang dibangun Raja Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Paku Buwono (PB) IX pada 1870. Bangunan pemandian air hangat tepat di belakang pesanggrahan. Konon, PB IX sering bersantai sembari mandi air hangat di lokasi itu.

Kerabat keluarga keraton juga sering berekreasi di sana. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam di lokasi itu. “Bangunan pesanggrahan dan pemandian air hangat termasuk situs cagar budaya. Bangunan bersejarah ini dijaga warga agar tidak rusak,” kata tokoh masyarakat, Kardi, saat berbincang dengan Solopos.com, Sabtu (16/2/2019).

Lantaran memiliki nilai sejarah, baik pesanggrahan maupun pemandian air hangat kerap digunakan untuk lokasi pengambilan gambar film. Beberapa rumah produksi film pernah menggunakan lokasi itu untuk shooting film. Mereka tertarik lantaran pesanggrahan Langenharjo memiliki bangunan yang unik.

Selain itu, lokasi pemandian air hangat kerap digunakan untuk lomba burung atau kicau mania. “Kami mempersilakan masyarakat yang ingin melaksanakan kegiatan di area pesanggrahan atau pemandian air hangat. Tak masalah, kami justru senang asal tidak merusak atau memindahkan bagian bangunan. Ini potensi desa yakni wisata sejarah,” ujar Kardi.

Hal senada disampaikan warga lainnya, Puguh, yang juga Pembina Wahana Kicau Mania. Halaman pemandian air hangat selalu dipenuhi ratusan penggemar kicau burung saat akhir pekan.

Biasanya saat libur sekolah atau libur hari raya keagamaan, tak sedikit warga mengunjungi situs cagar budaya itu. “Memang jumlah pengunjung tak banyak. Mereka warga luar Soloraya yang ingin mengenal lebih dekat pesanggrahan dan pemandian air hangat,” kata Puguh.