Berkat Sampah, Warga Jombor Bendosari Sukoharjo Mendulang Rupiah

Seorang pengelola bank sampah Dahlia di Kelurahan Jombor, Kecamatan Bendosari, Sugiyarti tengah menimbang sampah kardus di halaman rumahnya, Jumat (22/2 - 2019). (Solopos/Bony Eko W,)
25 Februari 2019 15:02 WIB R Bony Eko Wicaksono Sukoharjo Share :

Solopos.com, SUKOHARJO-Pengelolaan bank sampah yang dilakukan oleh warga Jombor, Bendosari, Sukoharjo ini barangkali bisa menjadi contoh.  Mereka tak hanya memilah sampah sesuai jenisnya yakni non organik dan organik, melainkan juga bisa mendulang rupiah dari sampah. 

Pengelolaan bank sampah memberikan penghasilan bagi warga setempat. Mereka menerima penghasilan tambahan yang bisa diambil setiap bulan, semester atau setahun. Hal ini bisa meningkatkan perekonomian warga setempat. “Para nasabah bank sampah menyetor sampah non organik hampir setiap pekan. Hasil penjualan sampah bisa diambil setiap bulan atau setahun. Rata-rata penghasilan dari menyetor sampah ke bank sampah senilai Rp200.000-Rp300.000 per bulan,” kata Sugiyarti, pengelola bank sampah Dahlia di RW 007, Kelurahan Jombor, Kecamatan Bendosari, Jumat (22/2/2019).

Sebagian nasabah memilih menyimpan uang penjualan sampah di bank sampah selama setahun. Mereka mengambil uang itu menjelang Lebaran untuk membeli kebutuhan pokok. Dengan cara seperti itu, nasabah bisa mendapatkan uang lebih dari Rp2 juta. Sebagian nasabah lainnya mengambil uang penjualan sampah setiap bulan.

Jumlah nasabah bank sampah Dahlia sebanyak 150 orang. Mereka merupakan warga Kelurahan Jombor. “Bank sampah Dahlia didirikan pada 2014. Saat itu, hanya ada 11 nasabah. Lambat laun, jumlah nasabah bertambah hingga mencapai 150 orang,” ujar dia.

Sugiarti menyampaikan pola pembagian keuntungan bank sampah. Masing-masing nasabah mendapat keuntungan sebesar 90 persen. Sementara sisanya untuk pengurus dan pengelola bank sampah Dahlia.  Mayoritas sampah nonorganik merupakan sampah rumah tangga seperti botol bekas air kemasan, kertas dan sampah plastik. Sampah rumah tangga itu bernilai ekonomis cukup tinggi. Kardus bekas seberat satu kilogram dibanderol Rp1.800, botol bekas air kemasan ukuran besar Rp400 per kg dan sedang Rp200 per kg. Sementara harga kertas koran lebih tinggi yakni Rp3.500 per kg. “Saya tak perlu pusing mencari pengepul barang rongsok. Mereka selalu mengambil sampah di bank sampah setiap hari,” papar Sugiarti.

Sementara itu, seorang warga RW 0 07, Kelurahan Jombor, Bendosari, Basuki, mengapresiasi kegiatan bank sampah di lingkungan tempat tinggalnya. Dia menilai keberadaan bank sampah menjadi solusi alternatif mengatasi problem sampah di permukiman padat penduduk. Jika sampah rumah tangga dikelola baik bisa berimplikasi positif bagi perekonomian masyarakat dan kelestarian lingkungan.

Basuki berharap konsep bank sampah diimplementasikan di wilayah perdesaan. “Selama ini, pengelolaan bank sampah kerap dijumpai di wilayah perkotaan. Nah, saya berharap masyarakat perdesaan didorong agar termotivasi membentuk bank sampah di wilayahnya masing-masing,” kata dia.