Hik Desa Jetis, Kalijambe, Sragen Ini Sediakan Makan-Minum Gratis Tiap Jumat

Warga menikmati hidangan gratis di warung hik di Desa Jetis Karangpung RT 007, Kalijambe, Sragen, Jumat (22/2 - 2019). (Moh. Khodiq Duhri)
25 Februari 2019 14:28 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN — Seorang pemilik usaha mini market di kawasan Kalijambe, Farid Suryawan, 40, menyediakan makan-minum gratis di hik yang dia kelola setiap Jumat di Desa Jetis, Kalijambe, Sragen.

Sinar mentari menyengat kulit saat Saputro, 20, sibuk bekerja, Jumat (22/2/2019). Setelah sejak pagi bergelut dengan adonan semen dan pasir, perutnya keroncongan. Pemuda itu lantas menggeber sepeda motornya menuju warung hik yang tak jauh dari simpang empat Kalijambe, tepatnya di Desa Jetis Karangpung RT 007, Kalijambe, Sragen.

Sesampainya di warung hik di pinggir jalan menuju Museum Purbakala Sangiran itu, Saputro langsung memesan segelas es teh untuk melepas dahaga. Dia juga mengambil dua bungkus nasi sambal teri plus tempe goreng.

Meski badannya masih kotor oleh adonan semen dan pasir, Saputro yang bekerja sebagai buruh bangunan itu lahap menikmati hidangan.

Di warung hik tersaji juga tempe goreng, tahu goreng, bakwan goreng, tahu bacem, kerupuk, dan jajanan lain. Aneka minuman mulai dari teh hangat, es teh, kopi hitam, kopi instan, dan lain-lain juga tersaji di warung yang dikelola Farid Suryawan, 40, pemilik usaha mini market di kawasan Kalijambe.

Yang menarik, semua makanan dan minuman di warung hik bisa dinikmati secara gratis oleh pembeli setiap Jumat. "Saya sudah beberapa kali makan di sini. Karena dijual gratis, di sini saya bisa makan sepuasnya sampai kenyang. Lumayan bisa menghemat uang jajan," kelakar Saputro kala berbincang dengan Solopos.com di lokasi.

Ini adalah kali ke-11 Farid Suryawan membuka warung hik secara gratis setiap Jumat. Warung hik itu sebenarnya milik temannya yang kebetulan menumpang membuka usaha di tanah milik Farid.

Namun, atas izin pemiliknya, khusus Jumat, Farid dibantu empat temannya mengambil alih pengelolaan warung hik yang difokuskan untuk kegiatan bersedekah.

"Pada dasarnya saya itu hobi touring bersama rekan-rekan sesama anggota komunutas motor atau mobil. Sekali touring, saya bisa menghabiskan jutaan rupiah. Saya kok merasa hidup saya lebih banyak digunakan untuk berfoya-foya dengan urusan duniawi. Saya lalu berpikir mengapa saya bisa ikut touring ke berbagai kota dengan biaya besar sementara untuk sedekah jarang. Tanpa perencanaan matang, saya membuka warung hik secara gratis untuk pembeli. Harapan saya sedekah bisa jadi tabungan saya untuk kehidupan di akhirat," ujar dia.

Farid biasa menghabiskan 5 kg beras untuk membuat sekitar 130 nasi bungkus. Jumlah itu masih bisa bertambah mengingat ada saja warga yang menitipkan sejumlah nasi bungkus untuk disedekahkan setiap Jumat. Ada pula yang menitipkan bahan mentah seperti sayuran, minyak, beras, teh, dan lain sebagainya.

Beberapa, menurut Farid, menitipkan sejumlah uang untuk dibelanjakan aneka bahan makanan. Setiap Jumat, Farid biasa mengabiskan dana sekitar Rp500.000 untuk berbelanja bahan makanan. Bagi dia dalam kegiatan sedekah tidak ada kata rugi. Justru ia merasa dimudahkan dalam urusan mencari rezeki setelah gemar bersedekah.

"Kami memang tidak menarik biaya sepeser pun kepada pengunjung yang mampir. Semua makanan di sini bisa dinikmati secara gratis. Tapi, kalau ada warga yang ingin ikut bersedekah dengan uang, kami persilakan mengisi toples infak di lokasi. Sedekah dalam bentuk nasi bungkus atau bahan mentah pun kami terima," jelas Farid.

Awalnya, warung hik gratis setiap Jumat lebih banyak diserbu pelajar sepulang sekolah. Lantaran warung penuh pelajar, buruh bangunan, karyawan pabrik, pengguna jalan, dan lain-lain enggan mampir.

Namun, Farid tidak kekurangan akal supaya kalangan umum bisa ikut menikmati. "Sekarang khusus pelajar kami persilakan mampir ke warung setiap habis Salat Jumat. Sebelum Salat Jumat, warung khusus melayani kalangan umum. Jika ditotal, ada ratusan warga yang biasa mampir ke warung kami setiap Jumat," ujar Farid.