Bocah 6 Tahun di Sambungmacan Sragen Meninggal Dengan Gejala Mirip DBD

Ilustrasi Nyamuk (Solopos - Whisnupaksa)
25 Februari 2019 18:15 WIB Moh Khodiq Duhri Sragen Share :

Solopos.com, SRAGEN -- BL, 6, bocah laki-laki asal Sambungmacan, Sragen, meninggal dunia setelah mendapat perawatan di salah satu rumah sakit (RS) Kota Solo pada Minggu (24/2/2019) pagi. Bocah TK tersebut meninggal dunia diduga karena kena demam berdarah dengue (DBD).

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P), Dinas Kesehatan Kabupaten (DKK) Sragen, dr. Agus Sudarmanto, mengatakan pada Senin (25/2/2019) pagi, sudah mengirimkan petugas dari Puskesmas Sambungmacan untuk melacak diagnosis dokter dari RS di Solo, tempat BL dirawat sebelum meninggal dunia.

Akan tetapi, hingga Senin sore, dia belum mendapat jawaban dari RS tersebut terkait penyebab kematian BL. “Kalau pasien itu dirawat di RS di luar Sragen, biasanya feedback [balasan] dari mereka agak lama. Ini karena manajemen di satu rumah sakit dengan rumah sakit lainnya berbeda-beda,” terang Agus kepada Solopos.com, Senin.

Agus menjelaskan BL sempat dibawa ke salah satu RS di Sragen sebelum akhirnya dirujuk ke salah satu RS di Kota Solo. Kendati demikian, lantaran hanya menjalani rawat jalan, RS di Sragen tidak sempat mengeluarkan diagnosis pasien.

“Bisa dikatakan, dia hanya numpang lewat di RS Sragen. Setelah itu dia langsung dibawa ke RS di Solo. Sementara ini yang tahu penyebab kematian dia apa ya RS di Solo itu. Jadi, sampai detik ini [Senin sore], kami belum bisa memastikan apakah penyebab kematian dia itu karena DBD,” ujar Agus.

Camat Sambungmacan, David Supriyadi, mengatakan hal senada. Menurutnya, hingga Senin sore belum ada kabar pasti terkait penyebab kematian BL. Menurut kesaksian tetangga, kata David, BL sempat dibawa ke poliklinik di dekat rumahnya.

Namun, saat itu tidak ditemukan indikasi gejala DBD. Kendati demikian, setelah itu, suhu badan BL naik turun seperti mengalami gejala DBD.

“Dia kemudian dibawa ke RS di Sragen lalu dirujuk ke salah satu RS di Solo. Pagi tadi saya dapat kabar dari dokter di puskesmas yang menyebutkan dia [BL] sudah meninggal dunia kemarin [Minggu],” jelas David Supriyadi.

David menjelaskan dalam rangka penanggulangan DBD, jajaran Muspika Sambungmacan sudah menggencarkan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk (PSN) setiap Jumat pagi. Dia berharap penyebab kematian BL tersebut bukan karena DBD.

“Bila kemungkinan itu karena DBD, berarti kami harus lebih giat lagi menggalakkan kegiatan PSN,” ucap David.

Sejak awal Januari lalu, tercatat sudah ada tiga warga Sragen yang meninggal dunia karena DBD. Ketiganya diketahui masih berusia di bawah 10 tahun.